[Done Read 09 Books] The Dark Side of Sidney




Haekal Adha Al Giffari — The Dark Side of Sidney


Pernahkah kita berpikir, sebenarnya apa makna setiap peristiwa yang kita temui? Mengapa setiap peristiwa itu menghampiri? Bahkan, mampu mengubah langkah kita? Mengapa harus kita yang menjalani dan bukan orang lain saja? (hal—04).
Sejujurnya saya rada bingung membaca novel ini. Satu saja, hal dasar yang menjadi tanda tanya besar dalam kepala saya ‘Ini novel intinya apa?’
Namun karena komitmen ‘must read’ saya, harus tetap mengupdate apapun yang saya baca. Sebab di resolusi tahun ini saya memberikan hukuman pada diri jika tidak terpenuhi. Hukuman yang cukup menyulitkan saya, di tahun depan. Setidaknya setengah dari resolusi harus terjalankan. Karena memang hanya berjumlah sepuluh butir—yang akan saya posting jika telah terealisasi.
Saya membaca buku ini semata greget gak selesai-selesai membaca novel Strom yang tebelnya lebih dari cukup untuk nimpuk maling—direview suatu saat nanti. Sebab bulan ini belum ada satupun buku yang kelar saya baca.
Langsung ke pokok. Secara garis besar novel ini menceritakan liburan semester si Giffari yang akan ke Aussie (tajir nih bocah, liburah ke luar negeri :P). Berangkat bersama Fachry—sepupu atau temen lama gitu saya lupa. Sesampainya di sana, tanpa sengaja keduanya bertemu dengan Zafhira yang lagi nangis misek-misek di airport. Dan, kebetulan lagi, Zafhira ini ternyata temen TKnya Fachry. Singkat cerita, selama liburan ketiganya tinggal bersama keluarga Fachry yang penuh kehangatan itu.
Lalu, kenapa Zafhira nangis bombay di awal pertemuan? Petualangan apa yang akan ketiganya hadapi di negeri kangguru itu? Bagaimana bisa Giffari bertemu dengan sosok Masef yang selalu bersama seorang gadis yang disebut Salju Putih di negeri kangguru itu?  
Sejujurnya, saya rada enggak ngeh dengan endingnya yang berbunyi begini: Siapa sebenarnya orang-orang aneh ini? Kenapa mereka mengikutiku? Apakah ini suatu kebetulan atau telah diatur sejak awal? (hal—300). Lha, ya mana saya tahu toh. Secara saya enggak ikutan ke Aussie (gubrakk).
Tapi, saya sangat salut dengan si penulis. Sebab pada biodatanya, doi nulis novel ini saat masih kelas IX SMP. WOW! Saya merasa tertohok. Maksud saya, sebelia itu doi udah bisa komitmen bikin naskah novel sampai selesai. Sedang saya, apa kabar nakah sendiri? Yang tiap awal tahun itu jadi resolusi (nangis misek-misek). Belum lagi persaingan masuk meja penerbitan. Dan revisi-revisi dengan editor setelah diterima. Sungguh, saya sangat mengapresiasi hal ini.
Mungkin karena novel ini bergenre remaja dan bukanlah segmen saya, jadi rada ‘gimana gitu’ bacanya. Tapi saya yakin ini novel cukup baik dibaca pada kalangannya. Sebab si tokoh saya—Giffari. Sering menampilkan konflik batin berupa pemikiran-pemikirannya yang lumayan memberikan pengetahuan. Seperti teori terciptanya jagad raya, yang ia ingat pernah di tuturkan gurunya. Tentang pulau Bali, yang menarik turis mancanegara, dan lain sebagainya. Jauh lebih baik ketimbang nontong anak geng motor cinta-cintaan.
Yaudah segitu aja dulu. Sekian dan bye~ bye~


*Done read 09 of 60 books must read in 2016

Tanggamus, 23 Februari 2016

8 komentar:

  1. hmm, mungkin memang novel ini akan terlihat bagus di kalangan penggemar novel remaja. kalau say asih lebih ke yang berbau thriller :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. thriller emang seru, dan menegangkan. aku juga suka. cuma, sometimes kita juga butuh bacaan ringan, sekedar selingan.

      Hapus
  2. Ini bergenre remaja banget dan sedikit berat ya ._. aku lebih suka baca yang komedi-komedi begitu -_- aku mah apa, manusia nggak ada serius-seriusnyaa~ awwkwkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini hanya tentang selera saja. genre apapun selama ada dan mearik, pasti kubaca hehe

      Hapus

Terimakasih sudah berkunjung. Silakan Berkomentar agar saya dapat mengunjungi balik blog kamu. Mohon maaf jika mendapati komentar dimoderasi, mengingat maraknya spam yang nganu.