[Done Read 13 Books] Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991


Pidi Baiq – Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991




Dilan, 

Kalau dulu aku berkata bahwa aku mencintai dirimu, maka kukira itu adalah sebuah pernyataan yang sudah cukup lengkap dan berlaku tidak sampai hari itu, melainkan juga di hari ini dan untuk selama-lamanya.

Karena, sekarang aku mungkin bukan aku yang dulu, waktu membawa aku pergi, tetapi perasaan tetap sama, bersifat menjalar hingga ke depan!

Aku mencintaimu, biarlah, ini urusanku. Bagaimana engkau kepadaku, terserah, itu urusanmu! (Hal—343)

Arrrghhh!!! Saya jadi baper maksimal baca novel ini. Entah mengapa, akhir-akhir ini saya too sensitive. Gampang banget baperan
. Sebab utamanya sih, tak lain karena si pemilik novel hanya memberikan tenggang waktu semalam untuk meminjam ini novel. Saya juga sih cukup gak tahu diri, jelas-jelas yang punya baru beli, belum baca sudah saya gagahi duluan novelnya haha.

Tapi bukan saya jika tidak bisa menyelesaikan novel dalam tempo satu malam. Hahah *ketawa evil. Tips dari saya, jangan lama-lama kalau pinjam novel orang, apalagi yang punya bemum baca. Dan segera kembalikan setelahnya, semata agar si pemilik gak kapok minjemin ke kita. Pemilik senang dan si peminjam riang. Simbiosis mutualisme kan.

***

Ok, cukup opening-nya. Langsung saja kita kupas tuntas novel Dilan Bagian ke dua ini. Anyway saya pernah membahas Dilan Bagian satu di sini.

*Tarik napas dulu*

*Kemudian hembuskan*

OK! Sudah siap *ini apaan sih?

Sungguh beruntung bagi Miela, sebab novel ini berseting di kota Bandung. Saya gak terbayang bagaimana seandainya novel Dilan ini berseting di Lampung. Pastilah Dilan ini bukan anak geng motor, melainkan komplotan begal spesialis penjarah motor. Pun jika Dilan anak baik-baik, pastilah dia jadi sasaran empuk pem-bully di sekolah. Kenapa?

D I L A N, nama yang keren, simple, elegan dan kharismatik. Sekali lagi, itu karena Dilan lahir di kota Bandung. Coba Dilan lahir di Lampung. D I L A N. So pasti penggemar novelnya bukan kalangan muda, melainkan ibu rumah tangga. Sebab, D I L A N dalam Bahasa Lampung bermakna; Terasi! Pelengkap sambal ala emak-emak. Sekali lagi (seirus ini terakhir!), sangat beruntung Dilan gak lahir di Lampung!

Jadi meski namanya bagus. Tolong ya calon emak-emak, jangan sekali-kali memberi nama anaknya karena terinspirasi novel ini. Laju, saking cintanya dengan tokoh Dilan, anaknya dinamai Dilan juga. Saya cuma mengingatkan lho.

Seperti khalayak ketahui (ini kok bahasa saya macam mau pidato ya.), novel ini lanjutan dari Dilan bagian satu. Adegan di novel sebelumya terpotong saat Miela dan Dilan sudah jadian. Resmi menjadi sepasang remaja labil yang menjalin kasih. Sehingganya, jalan Buah Batu berasa milik mereka berdua. 

Di novel kedua ini memang lebih baper dibanding novel sebelumya, Milea banyak nangis-nangis dan mengaru biru. Kasihan lah pokoknya. Mulai dari Dilan yang resmi di pecat a.k. dikeluarin dari sekolah karena berantem dengan Anhar. Dilan yang dikeroyok kakak Anhar dan gengnya. Hingga Dilan yang ditahan polisi. 

Satu yang sudah saya duga dan sayangkan, Milea dan Dilan akhirnya putus dan gak balikan lagi. Duhh, saya syedih. Meski itu memang sudah tertebak dari novel sebelumnya sih, Milea ‘kan menceritakan kisah masa mudanya, dan saat ini dia sudah menikah dengan Mas Hardi, bukan dengan Dilan. Sayang syekaleh mereka tidak berjodoh. Apa yang menyebabkan keduanya putus? Padahal di novel sebelumnya Dilan begitu sweet terhadap Milea!

“Aku gak suka dikekang!”—Dilan

Memang sih, Milea ini sebagai pacar terlalu mengatur Dilan. Banyak mau; gak boleh ini, ga boleh itu, sukanya gini, gak suka gitu. Biasalah cewek, posesif tanda sayang. 

Jujur, saya sedikit merasa gimana gitu dengan novel ini. Apalagi dengan si Miela, doi cengeng banget boo! Perasaan saya juga seorang wanita, pernah remaja, pernah alay, dan pernah labil. Tapi gak segitunya deh. Dikit-dikit nangis. Apa-apa nangis. Ihh, lemah! Apalagi ketika dia curhat tentang masalah perpacaran sama ibunya sampai nangis-nangis, saya jadi membayangkan jika di posisi dia. Mana berani, niscaya dirajam saya oleh ibu. Itu sudah pasti! 

Mungkin ibu saya akan bilang begini “Kamu, disuruh sekolah yang bener malah pacaran kerjaannya! Sini, nyangkul aja di sawah! Biar tahu rasa! Cari duit itu susah! Suruh sekolah yang pinter malah nangisin laki! Nikah aja sanahhh!!!” Horror gak coba ibu saya?

Saya jadi bertanya-tanya ini si Miela kapan ngerjain tugasnya, coba? Kapan mikirin ulangannya? Kapan mikirin remedial Fisika, Kimia, dan prentelannya? Kapan mikirin Ujian Nasional? Kapan mikirin test PTN? Secara, mikirin Dilan melulu!

Saya juga merasa, Milea ini sesungguhnya belum mengerti Dilan seutuhnya. Dia belum mengenal pribadi Dilan secara penuh. Sebab di novel sebelumnya, Milea hanya menceritakan senag-senangnya saja, ketika Dilan memperlakukannya secara spesial. Yaiyalah, ya! Secara Dilan lagi PDKT. Semua cowok juga gitu kaleee! Yang tampak di pelupuk mata cuma baik-baiknya. Barang sudah jadian, belangnya satu persatu mulai muncul, dia tukang tawuran lah, geng motor garis keras lah, tukang bolos lah, tukang php lah, tukang bangunan lah, tukang ngupil pake jempol kaki iguana lah. Dan sayangnya Milea gak siap dengan itu. 

Lalu, bagimana ya perasaan Mas Hardi, suami Miela sekarang ketika membaca novel ini? Apa Milea gak kasihan? Rasa cemburu pasti ada lah saya yakin, apalagi Miela jelas-jelas mengakui kalau masih menyimpan rasa dengan Masa lalunya dengan si Terasi, Eh! Dilan itu.

Oh ya katanya, novel serupa dari sudut pandang Dilan akan segera terbit lho. Bahkan Ayah Pidi udah ngasih bocoran bab satu di blog pribadinya. Judulnya Milea; Suara dari Dilan kalo gak salah. Saya lupa.  


PS:

Jika kalian siswa atau mahasiswa belum sama sekali membaca seri novel Dilan. Penasaran, dan berniat beli karena tidak ada yang bisa dipinjami. Lebih baik beli bagian keduanya saja. Sisa uangnya disimpan, lumayan ditabung. Sebab bagian pertamanya ada e-book-nya yang tersebar di internet. Meski cuma 70%, lumayan lah sisa 30%-nya kamu bisa baca sample di Gramed. Atau seperti saya janjian beli beda seri sama teman, kemudian barteran pinjam. Lebih hemat. Lumayan kan, sisa uangnya bisa untuk beli novel lain hehehe #MentalAnakKos 


*Done read 13 of 60 books to read in 2016

Thanks to: Lita udah mau barteran pinjem, novel Dilan sama saya :*



Pringsewu, 24 Maret 2016


16 komentar:

  1. dilan, novel jaman dulu ciri2 nya sering pake nama tokohnya sebagai judul buku yak. waduh, nove di gagahi? gimana ceritanya itu -__-
    wah, cuma sehari dipinjemin? diabisin gitu sehari langsung? hahaha, selesai baca ngantuk tuh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya berarti novelnya 'gagah' ah dasar lu je! Toyor nih :p
      Engga juga sih, cuma terlelap aja ngahaha

      Hapus
  2. Dilan. Namanya bagus yah, Dilan.
    Gue belum pernah baca ini, tapi kalo baca pos ini kayaknya bukunya seru yah.

    Wah iya, cari yang kelanjutannya aja deh kalo gitu..
    skrang siapa yang mau diajak patungan yah...

    *mental anak pelit

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dilan? Bagus? Apakah yg kmu maksud terasi?
      Iya emang seru, makanya baca ran

      Hapus
  3. Wah, mau baca jadi ragu.. haha takut terbawa suasana dan nanti ujung2 nya galau -___-

    wkwk sip dah, ngajarin buat hemat... emang harus begitu klo mahasiswa pinter2 mengelola uang :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lo laki takut galau?! Cius? Hadehhh -___-
      Yak betul sekali cit :)

      Hapus
  4. Wah kalau baca novel saya sukanya yang ada aksi berantemnya soalnya seru sih bacanya jadi lebih semangat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya novel apapun suka, asal ada novelnya ngahaha

      Hapus
  5. Jarang ada tuh mahasiswa sekarang yang hemat, adanya pemborosan, setelah abis baru ngemis ke ortu huhu kapan si bisa hemat, saya jadi terinspirasi dengan novel ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jarang bukan berarti gak ada kan Tu. Buku yg baik emang harusnya gitu nginspirasi

      Hapus
  6. Iya ini novel bagus nih, saking bagusnya dibaca berulang kali pun tak akan bosan hehe dan alhamdulillah udah punya dua bukunya ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bang Fan, alhamdulilah punya dua.
      Aku juga alhamdulilah baru punya satu tapi dah baca dua

      Hapus
  7. bentaar....
    ini buku ketiga belas di tahun ini? buseeeet
    gue baru limaan, ternyata udah ada yg banyak yak

    gue setuju sih, pas baca ini kok kayaknya si milea sama dilan ga bakal berakhir dengan happy ending, tapi penasaran, gara'' apakah mereka jdi putus. eh ternyata gara'' itu. tapi ya, klo kata gue sih, pemabaca kayaknya disuguhkan dengan drama cinta sma yg terlalu sempurna deh. apa itu cuman perasaan gue doang? soalnya, ya gila aja buseeeet pacarannya itu terlalu banyak banget kenangan indahnya.
    tapi gue juga ga abis fikir sih, nasib suaminya si milea itu gmna ya? sbar banget gila. si milea juga ga bisa ngelupan kenangan sama si dilan. kayaknya klo dilan ngajak balik, si milea mau deh kayaknya. kalo mnrut lo?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas Fau hehehe
      wah iya 'rama cinta yang terlalu sempurna' setuju banget sama istilahmu. mungkin si Milee ini cantik bangeddd kali yah
      tapi menurut gue, Dilannya yang enggak mau. gue ngerasa si dilan udah move on hehehe. entahlah.
      gue ngerasa mileanya aja sebagai cewek terlalu baper. cewek emang gitu sih *ini pengalaman*

      Hapus
  8. aaakkkkk setuju banget, gilak bikin baper masalalu yak ini novel si Sambal Terasi.

    Cerita dari versi Dilan nya udah mulai ada lho di blognya si Ayah Surayah alias Pidi Baiq, tapi mending jangan dibaca dulu deh daripada makin penasaran mampus nunggu ceritanya yang belum doi kelarin,,hehee. Salam kenal Lustikasari.

    BalasHapus
  9. saya bukan penggemar novel , namun melihat tulisan anda sepertinya saya masih harus banyak belajar.

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung. Silakan Berkomentar agar saya dapat mengunjungi balik blog kamu. Mohon maaf jika mendapati komentar dimoderasi, mengingat maraknya spam yang nganu.