Menilik Lukisan 8M Di Museum Affandi Yogya

museum affandi

Hari kedua di Yogya, saya jalan sendiri. Lagi. Hanya sebab semua manusia sibuk dengan aktifitasnya. Yang berimbas pada tidak adanya orang yang bisa nganter jalan, bukan berarti hidup saya gak fun.

Saya sudah—terlalu—biasa ke mana-mana sendirian. Bahkan perjalanan saya ke Jawa-pun sendiri. Sayang sekali kalau sampai waktu saya yang singkat di Yogya berlalu tanpa melakukan apa-apa. 

Kalau kata Bang Dani nih, “Kalau mau tidur-tiduran santai mendingan di rumah aja. Ngapain jauh-jauh di Jawa. Ngabisin ongkos aja!”

Saya memang dari lama pingin ke Museum Affandi. Pingin banget. Tapi baru ke Yogya lagi dan baru kesampaian. Diiringi langit cerah sang kota istimewa dan di antara hiruk-pikuk aktifitas pagi hari warga, saya membulatkan tekad untuk melipir ke Jl. Laksda Adisucipto No.167 tempat di mana Museum Affandi berada.

Pagi itu sekitar pukul 09.00 museum tampak sepi, sepertinya belum ada pengunjung. Baguslah, pikir saya. Jadi saya gak perlu bersitatap dengan orang yang seolah melempar tatapan dengan voice over “Eh lihat deh Yang, cewek itu. Jalan sendiri. Moto-moto sendiri. Kasihan ya, pasti jomblo!”

HAHAHA!

Saya musti merogoh kocek sedalam Rp 20.000,00 untuk biaya masuk area museum. Biaya yang cukup mahal kalau dibandingkan dengan museum-museum nasional. *mental anak kos ini*

Museum Affandi terbagi menjadi 3 gedung utama (galeri). Sebagai pengunjung pertama pagi itu, saya mendapatkan perlakuan cukup spesial dari sang guide yang tidak lain adalah putra almarhum Mbah Affandi sendiri.

Saya manggilnya Mbah aja ya. Biar macem cucunya. 

Gak usah protes, please!

Si bapak memandu saya untuk mengarah ke galeri I yang temboknya dibuat lengkung gimana gitu. Beliau membukakan pintu dan menghidupkan lampu. Lantas membiarkan saya asik sendiri mengamati sudut demi sudut ruangan. Dari satu lukisan ke lukisan lain. 

alamat museum affandi

Di Museum Affandi suasana benar-benar tenang dan damai. Mungkin karena saya cuma sendirian dan gak ada alay-alay yang lagi ribut bikin story nistagram. Itulah alasan saya tidak terlalu suka mengunjungi tempat wisata yang lagi hits bangettt di sosmed. 

Saya suka sekali dengan nuansa tosca cat temboknya. Besok kita kalau bikin rumah mau diberi sentuhan warna serupa ya—, :D

Di sini terpajang mobil Mitsubishi Gallant 1976 kesayangan Mbah Affandi yang sudah dimodifikasi menyerupai bentuk ikan. 

mobil affandi

Galeri I ini menurut pengamatan saya, merupakan nyawa dari kehidupan si Mbah Maestro. Terbukti dengan lukisan yang dipajang mulai dari awal karir melukisnya hingga akhir hayatnya. Dokumentasi-dokumentasi penghargaan yang pernah diraih Affandi juga dipajang pada kotak kaca di galeri I.

Sebelum memasuki galeri II,  kita akan melihat makam Affandi dan sang istri di salah satu sisi. Saya semakin antusias dan semangat untuk mengamati karyaa-karya Mbah Addandi. Mulai dari sketsa-sketsa sederhana tapi keren yang bergaya ‘Affandi banget’ terpajang di sini, hingga lukisan-lukisan mahakeren sang maestro. 

sketsa affandi
Sketsa karya Affandi di Galeri II

Beberapa lukisan di galeri II museum ini di jual lho. Berdasarkan penuturan si bapak guide, memang ada beberapa lukisan yang tidak boleh dijual oleh mendiang dan beberapa di antaranya boleh di lelang.

Si bapak juga sempat menjelaskan tentang cara menjaga suhu dan kelembaban udara lukisan lengkap dengan teknik membersihkan lukisan. Tapi sayangnya saya gak ngerti. Dan otak lagi dalam posisi males mikir keras HAHA!

“Kalau lukisan yang ini berapa harganya, Pak?” Tanya saya untuk lukisan yang berjudul The Face of Papua.

“Itu... 8M.” Kata si bapak.

Saya seketika keselek. “Maksudnya delapan miliar?” Bertanya. Memastikan.

Si bapak mengangguk. 

Dan saat itu juga saya pingin ganti cita-cita jadi pelukis.

lukisan affandi
Lukisan berjudul The Face of Papua

Di galeri terakhir, kita disuguhkan karya-karya anak Mbah Affandi. Yang mendominasi adalah lukisan dari Ibu Kartika. Ada pula televisi yang menayangkan sepak terjang dan kehidupan Mbah Affandi.

Saat saya keluar, matahari nyaris sejajar dengan ubun-ubun. Tidak terasa saya ternyata sudah menghabiskan waktu berjam-jam di area museum. Hari yang indah untuk menghabiskan waktu mengagumi karya seni sang maestro kebanggaan bangsa.

mengunjungi museum affandi

Selanjutnya saya beralih menuju kafetaria, untuk menukarkan kupon dengan free soft drink. Siang itu beberapa anak dan cucu Mbah Affandi sedang berkumpul. Sepertinya akan ada semacam acara keluarga. Entah apa. 

Ketika saya melihat kehadiran ibu Kartika, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengoleh-olehi diri saya dengan cindramata berupa kaos yang sekalian dimintain tanda tangan Ibu Kartika. 

anak affandi
Ibu Kartika sedang menandatangani kaus saya :D

Mayan, belum tentu setahun sekali kan saya bisa bertemu dan mengobrol basa-basi dengan beliau. 

Di area kafetaria juga ada salah satu cucu Mbah Affandi yang sedang menyelesaikan lukisannya. Sembari menikmati suasana asri museum, ditemani tegukan demi-tegukan soft drink saya memerhatikan si Mas melukis dengan khidmat. 

Sumpah ini kali pertama saya melihat langsung pelukis profesinal sedang bekerja. Saya duduk anteng tak jauh darinya. Aslinya pingin tanya-tanya, tapi takut ganggu.

museum affandi yogya
Nontonin mas-mas melukis

Hingga akhirnya ada seorang pengunjung yang mendekat dan bertanya. “Mas, berapa lama melukis sebesar ini?”

Lalu si Mas pelukis jawab. “Kalau cepat Tiga hari selesai, tapi bisa juga 10 hari baru selesai. Tergantung sikon.”

Terus saya nyahut. “Kalau di jual, berapa kira-kira, Mas.”

“Sekitar 35 juta.”

Errr—, itu duit semua ya. Sepertinya saya emang kudu ganti cita-cita jadi pelukis deh.

Karena penasaran, sayapun kembali bertanya. “Mas sebenarnya melukis itu bakat atau bisa dipelajari sih?”

“Aslinya bakat Mbak. Belajar untuk mengasah kemampuan.” Katanya sambil fokus menggoreskan pewarna ke kanfas.

Saya mengangguk-angguk.

“Anak dan cucu Affandi saja tidak semuanya jadi pelukis, Mbak.” Katanya lagi.

‘Lha anaknya Affandi saja belum tentu bisa melukis. Apalagi saya!’ Batin saya yang seketika memupuskan cita-cita terbaru saya yang baru kepikiran beberapa jam lalu.

Padahal saya sepulang ini sempat berencana bikin lukisan abstrak yang harganya 8M juga. Mayan kan kalau laku, bisa beli alphard 8 biji.

HAHAHA. NGIMPI!

Tips Berkunjung Ke Museum Affandi

Datanglah saat pagi hari, pas jam buka. Sebab museum masih relatif sepi. Dan ketika pengunjung mulai ramai, kamu sudah puas mengeksplore dan menikmati setiap jengkal museum.

Jangan cuma foto-foto gak jelas. Baca-baca juga keterangannya. Biar tahu dan makin banyak ilmu.

Pada momen-momen tertentu, kamu bisa seberuntng saya. Bertemu langsung dengan Ibu Kartika dan melihat langsung proses pembuatan lukisan oleh cucu Affandi.

Dan yang terakhir, jangan lupa riang gembira. 

pelukis affandi


Oke sekian, salam sayang dari calon mantu idaman



8 komentar:

  1. Harga lukisannya gila yak .. nyampe 8M gitu, busyet dah, klu kayak gt jg sp yg gak tergiur pengen beralih profesi jadi pelukis, hehe... tp ya emanh karya seni itu mahal dan melukis juga bukan pekerjaan yang mudah...

    Anw, mbak keren ya bisa berkunjung ke monumen Affandi sendirian berarti emang tipe mantu idaman yg mandiri banget😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, karya seni emang mahal harganya.

      ya gimana ya, kalo nunggu teman. susah nyari teman yang mau diajakin jalan-jalan keluar masuk museum dengan happy. daripada ndak kesampaian kan, hidup cuma sekali. jadi lebih baik jalan-jalan sendiri aja.

      Hapus
  2. Wow, Latifah lagi ke Jogja ya. Duh, jadi kangen Jogja nih. Beberapa tahun yang lalu juga aku ke museum ini dan emang begitu masuk di sini, tempatnya ekren, instgrammable dan banyak spot menarik yang artistik. Mungkin sekarang ada beebrapa perubahan kali ya. Dulu di belakang juga ada macam bangunan berlantai 3 gitu jadi kita bisa liat sungai yang ada di sampingnya. Jogja emang apaaaaaaa aja ada. InshaAllah tahun baru bisa ke sana :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak aku setu sama mbak meyke. memang ada menaranya, di belakang galeri 3. tapi pas aku ke sana museum affandi lagi renovasi jadi pengunjung gak bisa naik ke menara yang letaknya di sebelah sungai gajah wong itu

      Hapus
  3. Awalnya saya bingung Affandi ini siapa kok sampai namanya di museumin.. hehehe... Nah kalau untuk wisata di Jogja kayaknya emang enggak terlalu dikenal museumnya ya? Tapi itu justru yang bikin seru, jadi gak terlalu ramai... Mudah-mudahan bisa ke sana suatu saat nanti... Lukisannya keren-keren... Karya seni emang mahal yaaa...

    BalasHapus
  4. gue tuh enggak tega kalo ngebiarin cewek jalan jalan sendirian. bawaannya pengen gue temenin jalan jalan, bahkan sampe ke pelaminan. eh.
    lukisan gitu 8 m? luar biasa. gue sebagai orang awam sama lukisan enggak ngerti banget lukisan yg bagu dan mana yg enggak. tapi dengan harga 8 m, face of papua pasti memiliki arti yang sangat mendalam. salut sama mbah affandi!

    BalasHapus
  5. Jogja emang selalu ngangenin sih ya.. :D

    Romantis sekali ya di akhir hayat, makamnya pun disandingkan dg sang istri :)

    Cheers,
    Dee - heydeerahma.com

    BalasHapus
  6. Belum kesampaian main ke sini.. penasaran sama museum affandi, dan kamu udah ngasih lihat gimana dalemnya yang kece banget! Btw harga lukisannya, fantastis!

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung. Silakan Berkomentar agar saya dapat mengunjungi balik blog kamu. Mohon maaf jika mendapati komentar dimoderasi, mengingat maraknya spam yang nganu.