Sanitasi Kecamatan Panjang Undercover Part 1

SANITASI DI PANJANG

Oke, ini lanjutan dari postingan kemarin. Kebiasaan nulis ala-ala blogger, ternyata nulis ala-ala laporan jurnalistik itu gak seru ya. Gak bisa bercerita curhat yang bersifat bebas, Panjang dan lebar ke mana-mana. Padahal banyak sekali hal unik yang aku temui saat terjun lapangan. Yang kupikir sayang banget kalau enggak terungkap.

Makanya kubuatlah postingan yang berbeda biar curhatnya makin asyique

Minggu, 26 agustus pagi-pagi sekali aku janjian ke lapangan bareng Novi. Untunglah kami sekelompok jadi bisa ke sana bareng. Sebab aku bener-bener gak pernah belusukan sampe pesisir-pesisir Panjang cuy. Ya mau ngapain kan!

Awalnya aku berpikir acara yang di rundown dikasih judul field trip ini, kami semua peserta workshop ke lokasi bersama-sama, mencari dan mengamati data-data di lapangan together gitulah. Syukur-syukur ada pemandunya serupa kunjungan-kunjungan apalah itu.

Tapi ternyata dugaanku melesat, kami diberi kebebasan full, mau ke lokasi bersama-sama atau sendirian terserah aja. Yang penting laporan dikumpulkan pekan depan. 

Aku sempat ngopi-ngopi lucu di indomart Garuntang sembari menunggu Novi. Sebelum kami memulai petualangan ke arah selatan kota Bandarlampung dengan mengendarai motor masing-masing. Sebab kosku dan rumah Novi kayak dari ujung barat dan ujung timur gitu, jadi keputusan paling cerdas adalah bawa kendaraan masing-masing aja. Kalau mau saling antar-jemput sangat merepotkan.

Aku yang anak baik-baik nan polos ini sangat ketar-ketir, lha gimana kemarin kami hanya dikasih klue untuk liputan di Kampung Harapan, Panjang. Yang ternyata kalau di ketik di google maps itu gak ada pemirsah! Panjangnya sebelah mana pun, Kutak tahu. Pengennya sih berangkat ke sana bersama-sama abang-abang jurnalis atau anak mahasiswa yang sekelompok itu, tapi ternyata mereka belum bisa ke lokasi hari tersebut. 

Yowesdeh, sok strong aja berdua Novi.

Kenapa aku ketar-ketir?


Jadi gini, let me explain. Daerah Kecamatan Panjang, yang merupakan lokasi pelabuhan peti kemas terbesar dengan kapal-kapal mulltinasional yang mampir itu, sejak dahulu kala sudah amat tersohor dengan lokasi (maaf) prostitusi gitu. Macem kalijodonya Jakarta, dan Dollynya Surabaya gitulah. 

Nah, setelah Novi berkoordinasi dengan Mbak Iva dan beberapa pihak, akhirnya kami menemukan setitik cahaya terang. Jadi si Kampung Harapan ini lokasinya di Kelurahan Panjang Selatan. Jadi apapun yang terjadi pokoknya pagi ini kami akan ke Kelurahan sono.

Singkat cerita berbeloklah kami ke daerah Kampung Harapan jaya, Rawa Laut dan sekitarnya. Nanya warga dan minta diberi arahan untuk ke rumah pak RT setempat. Mengobrol sebentar dengan ibu RT tentang persanitasian, dan mendapatkan cerita kalau di sana air untuk mandi dan cuci saja kudu beli, segerobak berisi 14 jerigen dengan harga 20K. Itu baru untuk mandi dan cuci-cuci, belum air isi ulang untuk minum dan masak.

Aku yang selama ini gak bisa mandi dengan tenang kalau enggak denger air keran mengucur seketika menganga. “Edan! Bisa ya hidup begini.” 

Dan yang bikin aku menganga semakin lebar, bahwa masih ada (meskipun gak banyak) penduduk di sana yang membuang hajat alias BAB langsung ke laut. “What The ***!!!”

Jadi gini konsepnya si penduduk ini, memiliki kamar mandi di rumah tapi gak dilengkapi dengan dudukan WC. Fungsi kamar mandi hanya untuk mandi dan cuci-cuci dengan air jerigen yang dapatnya beli itu. Kalau kebelet boker, entah itu ibu-ibu, anak-anak, bapak-bapak baik itu pagi, siang, sore, malem, hujan, panas, gelap terang. Terserah. Lo musti ke laut untuk BAB. Ya, meski jaraknya deket sih. 

Lokasi BAB pun gak kalah mengenaskan, Cuma papan-papan yang disusun di atas pondasi kayu gelondong dengan bilik-bilik paling Cuma setinggi satu meter untuk ngumpet. Malu? Duh entah deh itu anaknya siapa. Gak kenal pokoknya!

Kondisi agak mendingnya adalah, si penduduk ini memiliki kamar mandi di rumah dan dudukan WC, namun paralon pembuangannya langsung menuju laut. Alias gak punya septick tank. Aku katakana mending, sebab boker itukan privasi ya. Tapi kalau buang kotorannya ke laut kan sama aja ya. Itu mencemari lingkunan. Nah, dua kondisi ini biasa disebut OD (Open Defication).

Meskipun di sana banyak juga sih warga yang sudah punya jamban sehat sendiri. Maksudnya punya kamar mandi dengan dudukan WC dan sudah menggali septic tank sendiri. Ya, Namanya juga di daerah kota yang padat penduduk, sulit kan menerapkan konsep menggali septic tank dengan jarak minimal 10 meter dari sumber air dan sebagainya. Jadi mereka mayoritas menggali langsung septic tank di bawah rumah nya.  

Tapi menanggapi perilaku OD di atas, aku amat tercengang lho. Maksudnya gini, ini kelurahan Panjang Selatan kan masuk daerah kota madya, meskipun lokasinya di pesisir yang pinggiran gitu. Jarak dari pusat kota aja hanya sekitar 20 menit. Kota lho, kota! Masa penduduknya masih hidup dengan kebiasaan primitif gini. Sesulit apa sih mengakses area kota dengan jarak cuma sepelemparan sarung tangan Thanos?

Atau, akunya aja yang selama ini gak peduli hingga buta dengan masalah-masalah kaum urban. Entahlah!

Hebatnya saat wawancara ada warga yang bilang gini. “Mayoritas orang sini emang punya jamban sendiri Mbak di rumah. Tapi kalau pengen BAB sambal lihat laut. Sambal lihat pemandangan, ya di sini.” Dengan entengnya seolah gak ada yang salah dengan perkataannya. Kalau gak percaya, baca reportaseku di SINI.

Ya, gitulah. Kejujuran emang berat Pak Eko!

Rasa heranku pun tak cukup sampai di situ


Jujur sejujur-jujurnya ya. Selama ini aku belum pernah yang Namanya lihat secara langsung daerah prostitusi. Pernahnya lihat dari adegan film-film aja. Dan ya, seperti yang aku katakana di atas, for the first time nih, aku bener-bener lihat secara langsung daerah pprostitusi beneran. Anjir!

Ini semacam parameter buat diriku pribadi. Betapa selama ini aku cupu banget. HAHA! 

Maksudku lokasi di mana rumah penduduk amat padat, dengan gang senggol yang kalau sepapasan sesama pengendara motor aja satunya musti berhenti dan menyingkrih dulu. Kemudian berpapasan pemulung yang mendiring gerobak berisi botol-botol miras. Rumah-rumah penduduk yang bertuliskan karaoke A, karaoke B, karaoke C, dan seterusnya hingga berderet satu gang dari ujung sampai ujung lagi. 

Yang lebih gilanya, si karaoke itu di depannya duduk-duduk kupu-kupu malam dengan riasan menor yang udah gak berbentuk sisa semalam. Baik tua mapupun muda. Ada yang sedang menjemur baju, menyesap rokok sembari ngopi bahkan ada yang lagi digandeng lelaki hidung belang sambil sesekali dicolek pantatnya.

Ini kalau di adegan kartun, rahang bawahku udah jatoh ke bawah diikuti dua bola mata yang menggelinding saking shock-nya.

Kehidupan anak-anak daerah prostitusi


Selesai meninjau bilik merenung, yang merupakan lokasi warga yang pingin BAB sambal lihat laut itu. Aku dan Novi bergeser kea rah bibir pantai. Lokasi yang terbuka, sebab kebanyakan di sana daerah yang berbatasan langsung dengan laut itu sudah didirikan rumah panggung yang tentu saja WCnya tipe cempling yang langsung ke laut. 

Dari kejauhan, tampak kapal-kapal besar milik pertamina singgah. Konon itu semacam pelabuhan untuk menampung bahan bakar impor. Terbukti dengan adanya semacam penampungan-penampungan besar yang tampak di kejauhan.

Pantai di sini sangat jauh dari ekspektasiku. Biasanya kalau lagi jenuh asik kan ya main pasir sembari sesekali kaki dijilatin ombak. Kalau di sini enggak. Bibir pantainya udah ditumpuki batu karang serupa pondasi. Semacam dikafling gitu, yang nantinya akan didirikan rumah. Nah ditenganya itu ditimbun sampah dan pasir hingga memadat dan menyatu.

Sembari menunggu hal itu terjadi, lokasi ini adalah lokasi favorit anak-anak untuk bermain. Pas sekali saat aku ke sana hari minggu, jadi anak-anak sekolah pada libur. Mereka tampak asik sekali mencari barang-barang bekas di atas tumpukan sampah untuk dijadikan mainan.

Sebagian dari mereka, bergelantungan di bawah rumah panggung untuk berlomba memasukan air laut yang dibawa ombak ke dalam botol-botol kaca. Bikin aku pingin bilang, “Yaampun. Dek ini lokasi mainmu tuh deket banget sama lokasi pembuangan tinja lho. Sadar gak sih kalian?” Tapi kok akunya ndak sampai hati untuk berucap.

Padahal kalau sampe pertanyaan itu mampu kuucapkan, aku punya pertanyaan susukan. “Dek, pas lihat kupu-kupu gitu apa yang ada di benakmu? Dalam logikamu, mereka itu apa?”

Another Fun Fact


Pokoknya apa yang aku lihat di sini, semuanya mencengangkan. Bener-bener gak pernah terbayang selama ini di benakku lah. Lucunya, masjid dan mushola di lokasi ini tetap berfungsi sebagai mana mustinya. Wayahnya sholat, yang mau sholat ya sholat. Yang mau jamaahan di masjid ya ke masjid. Yang mau menikmati surge dunia ya jojong aja. Seolah dua hal yang bersebrangan serupa warna hitam dan putih itu berjalan maju selaras beriringan aja gitu.

Tepok jidat deh pokoknya!!!!  


To be continue …… 



Salam sayang dari Latifah





Disclaimer:
Panjang Naskah 1329 kata
Tugas ODOP Hari ke 4 #KomunitasOneDayOnePost #ODOP_6

2 komentar:

  1. tepok jidatlah pokoknya hahahaha. Aku abis kesana, laju pengen jadi ibu walikotaaa!

    BalasHapus
  2. ini bacanya antara kagum dengan pesona alam yang sebenarnya punya potensi keindahan tapi juga miris dengan fakta yang ada ya mba

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung. Silakan Berkomentar agar saya dapat mengunjungi balik blog kamu. Mohon maaf jika mendapati komentar dimoderasi, mengingat maraknya spam yang nganu.