Bunda, SKM Bukanlah Pengganti Susu, Begini Cara Benar Menggunakannya!


Aku masih ingat sekali gimana jaman dulu kecil sering dikata-katain dan dibanding-bandingin dengan saudara sepupuku yang kebetulan seumuran denganku. Begini kira-kira.

"Latifah kok kurus sekali, gak pernah makan ya."

"Latifah gak pernah dikasih makan apa sama Ibunya. Hehe!"

"Coba lihat itu si Nina--sepupuku, bukan nama sebenarnya--pasti makannya banyak, yaampun gemuk banget. Gemes!"

"Coba itu Latifah minumlah susu macem Nina. Biar badan gak tulang semua."

Sedih ya, kita ini sebagai anak Indonesia, macem sudah akrab dengan body shaming sejak dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Judge yang gemuk pasti makan banyak dan yang kurus pasti kurang makan itu seolah udah melekat dan membudaya.

Padahal jaman kecil dulu--sampai sekarang--aku pecinta susu garis keras, buku dongengku dari hadiah susu formula sampai bejibun. Sampai sedewasa inipun aku rutin banaget ke mini market buat bebelian susu UHT, susu penaik berat badan hingga susu murni.

Tapi entahlah, masih menjadi pertanyaan dan misteri besar kenapa aku sulit sekali untuk gemuk haha.

Beda kasus dengan sepupuku, lidahku yang udah terkuliturisasi dengan citarasa yang Sumatra banget ini gak suka makanan manis gitu, aku gak suka bangettt--bahkan gudegpun aku gak doyan--, nah kalau si Nina ini suka pake banget.

Bahkan ibunya Nina bangga banget, lantaran sejak kecil anaknya hanya mau minum susu cap en*ak. Gak mau yang lain. Selain ekonomis dan mudah ditemukan konon si Nina ini gak mau pakai produk susu yang lain. gak cocok.

Transformasinya ya itu, sampai sekarang nina gemuk-gemuk menggemaskan seperti yang orang-orang bilang. berbeda 180 derajat sama aku yang kurus tidak mengairahkan haha!

Nah Bunda, sekarang aku mau tanya. Anak siapa yang dulu waktu kecil rutin banget konsumsi susu kental manis macem si Nina?

Mari menjadi Ibu dan Calon Ibu Indonesia yang Cerdas!

***

Berkaitan dengan uraian cerita pengalamnku di atas, pada postingan kali ini aku juga hendak bercerita tentang kegiatanpu pada Kamis 29 November lalu aku dan teman-teman dari Tapis Blogger bersama Ibu-Ibu dari PP Muslimat Nu berkesempatan untuk mengikuti acara sosialisasi bertajuk "Bijak Menggunakan Susu Kental Manis" dalam rangka soialisasi perihal cerdas memilih pangan anak.

Teman-teman pasti tahu bahwa belakangan ini SKM alias Susu Kental Manis sempat viral dan cukup membikin resah--terutama di kalangan ibu-ibu--karena pemberitaannya cukup masif dan militan, perihal bahwa SKM bukanlah produk susu.

Bekerjasama dengan YAICI PP Muslimat NU Sosialisasikan Bijak Mengkonsumsi SKM

Bahnwa ternyata di era serba praktis ini, semakin banyak saja kaum ibu yang belum sadar kebutuhan gizi seimbang atas anak-anaknya. Problemnya bahwa baik ibu zaman now bahkan zaman old masih banyak yang memenuhi kenutuhan nutrisi anaknya dengan instan dan praktis. Selama anaknya doyan, hantam pokoknya. Kasusnya persisi seperti yang aku paparkan di atas.

Pada sosialisasi ini ditekankan pada produk SKM yang meskipun produk berbahan dasar susu, namun karena pemrosesannya menggunakan banyak gula sehingga nutrisi si susu telah terpecah dan berubah menjadi produk yang tidak setara dengan susu lagi. Oleh sebab itu SKM hanya boleh digunakan untuk bahan tambahan makanan dan toping.

Jadi pada sosialisasi ini, para narasumber yakni Ketua Harian Yayasan Abhiparaya Insan Cendikia Indonesia Arif Hidayat, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Dr. Lusi Darmayanti, Kepala Balai BPOM Lampung Dra. Syamsuliani, Apt. MM.m dan dari PP Muslimat NU PW Lampung Dra. Hj. Susiyati, menekankan kepada ibu-ibu peserta sosialisasi bahwa SKM bukanlah susu yang bisa memenuhi gizi utama anak.

Talkshow bijak menggunakan SKM bersama sumbernya langsung, aktual dan terpercaya!
Aku cukup miris dengan kenyataan di masyarakat bahwa selama ini--berpuluh-puluh tahun lamanya--kita selalu termakan oleh iklan produk SKM yang seolah-olah mengkampanyekan bahwa SKM adalah produk susu bergizi, yang sangat cocok menghimpun kebutuhan harian akan dilengkapi dengan gambaran keluarga goals belum terpenuhi kalau belum minum SKM.

Padahal kenyataannya SKM memiliki kandungan gula yang sangat tinggi, anak-anak yang rutin mengkonsumsi SKM sebagai minuman pengganti susu, bukan sebagai bahan makanan tambahan akan mengalami kekurangan gizi atau bahkan sebaliknya kelebihan gizi alias obesitas.

Pada titik ini aku sadar, kenapa si Nina tidak mau diganti dengan produk susu yang lain, sebab ia sudah terbiasa dengan minuman manis berupa SKM yang dicairkan. Susu terutama susu formula kan gak semanis itu. Sebab asupan gula yang berlebihan sejak kecil, maka hal yang wajar jika ia saat ini obesitas.


BPOM Mengelurkan Larangan SKM Sebagai Minuman Tunggal

Lagi-lagi aku kembali miris sebab selama bertahun-tahun ini kita sebagai masyarakat yang termakan iklan tahunya SKM adalah susu. Padahal nilai gizinya enggak setara.

Salah satu makanan bertoping SKM

BPOM sendiri baru-baru ini telah mengeluarkan aturan yaitu PerBPOM No. 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan yang melarang penggunaan SKM sebagai minuman tunggal. Terdapat 2 pasal yang mengatur perilah SKM, yaitu pasal 54 butir 1 dan pasal 67 butir w dan x.

Di mana pasal 54 ini memuat kewajiban produsen untuk mencantumkan tulisan yang berbunyi "Perhatikan! Tidak untuk menggantikan Air Susu Ibu, tidak cocok untuk bayi sampai usia 12 bulan. Tidak dapat digunakan sebagai sati-satunya sumber gizi."

Sedangkan pasal 67 butir w memuat larangan berupa pernyataan/visualisasi yang menggambarkan bahwa susu kentam dan analognya disajikan sebagai hidangan tunggal berupa minuman susu dan sebagai satu-satunya sumber gizi.
   
Butir x memuat larangan pernyataan/visualisasi yang semata-mata menampilkan anak-anak di bawah lima tahun pada susu kental dan analognya.

Ya, sejatinya sosialisasi perihal bijak menggunakan SKM ini sudah mulai disosialisaskikan oleh instansi terkait, bahkan sebelum ramai diisukan dan viral, dan hingga detik ini terus digalangkan.

Ibu Syamsuliani dari BPOM saat menjelaskan produk-produk susu
Aku jadi memikirkan bagaimana dengan saudara-saudara kita, para ibu yang tinggal di kampung dan akses informasi terbatas, apakah mereka memperoleh sosialisasi dan pemahaman yang sama seperti kami yang tinggal relatif di daerah perkotaan. Nah untuk itu, aku berharap kamu dan pembaca blog ini untuk turut membantu memberikan pemahaman perihal penggunaan SKM ini, Oke!

Turut Mensosialisasikan Bermakna Syiar Baik Oleh Muslimat NU

Menurutku penggandengan PP Muslimat NU oleh sahabat YAICI ini sangat tepat sasaran, apalagi ibu-ibu muslimat di seluruh penjuru daerah banyak sekali jumlahnya. Sehingga harapan syiar baik ini cepat tersebar dan tersosialisasi akan terlaksana.

Menyangkut SKM yang rendah protein dan tinggi kadar gula, ternyata konsumsi susu di Indonesia tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga se-ASEAN. Hal ini yang kemudian bersangkutan pada fenomena stunting. Padahal susu murni--bukan SKM, ya!--merupakan salah satu bahan pangan yang yang memiliki kandungan protein tinggi.

Bijaksana dalam menggunakan SKM sebagai campuran dan pelengkap bahan makanan lain berarti kita menghindarkan keluarga dari penyakit akibat segala penyakit yang diprotek oleh produk gula. Seperti kanker yang konon bisa dipicu dari konsumsi makanan dengan kandungan gula yang tinggi, di samping mengakibatkan obesitas.

Nah sekian pemaparan mengenai bijak menggunakan SKM dari mantuidaman.com semoga bermanfaat. Kalau kamu gimana, pernah menjadi korban konsumsi SKM berlebihan macem nina atau ada cerita lain?

Jangan lupa share di kolom komentar ya.


Salam sayang 



3 komentar:

  1. Wah si Nina sekarang berapa ya BBnya (la kok kepo) hehe


    Heum artikelnya mantap sekaliii, mengedukasi. kalau aku dari dulu ngga suka minum skm dalam keadaan polos. Suka dicampur kopi, jadi ngga parah amat lha ya hihi

    BalasHapus
  2. Thanks infonya.Bermanfaat nih tuk para ibu dan calon ibu supaya lebih bijak mengkonsumsi SKM.

    BalasHapus
  3. Tenang mantu.. Nti agak gemukan kalo udah jadi istri orang, wkwk. Bersyukur ya dapet ilmu soal susu kental manis pas masih jomblo. Jadi gak salah langkah kasih skm ke anak nanti.

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung. Silakan Berkomentar agar saya dapat mengunjungi balik blog kamu. Mohon maaf jika mendapati komentar dimoderasi, mengingat maraknya spam yang nganu.