MASIGNCLEAN103

Selamat Ulang Tahun, Dwi Andika Pratama


Pada sebuah momen yang mengharuskan kami naik taksi daring, Dika tak henti-hentinya mengucap terimakasih sembari tersenyum sumringah kepada sang driver, hanya sebab si bapak tanpa diminta mengalah untuk putar balik menjemput kami, alih-alih meminta kami menghampirinya menyebrangi jalan.

Dipikir-pikir, itu kan sudah tugas dia ya. Tapi enggak di mata Dika, ia menempatkan Pak Driver seolah-olah superhero. Kalo gak tepat waktu jemput, kami akan segera leleh diterkam teriknya matahari Jakarta.

Mungkin buat sebagian orang terlalu berlebihan, ya. Tapi let me tell you, orang mana sih yang gak suka dihargai jasanya. Ya, begitulah cara Dika memperlakukan orang lain. ini bukan soal bayaran, tapi Dika tahu bagaimana memposisikan orang lain, agar orang tersebut merasa keberadaannya diakui.

Berkali-kali saya katakan kepada Dika, bahwa saya tidak suka dengan senyuman yang ia tampilkan pada profil-profil media sosialnya. Apa yaaa, senyuman itu terlalu diplomatis. Di mata saya Dika terlihat serupa Caleg, hanya kurang diedit visi-misi saja.

Senyumnya Dika yang asli tidak seperti itu. Saya menyebutnya 'heleeeh smile', i like that kind of smile. Pokoknya senyum itu Kadika bangettt.

Maka setiap akan mengakhiri sesi jumpa saya akan mengancamnya begini, "give me your heleeh smile, please. Or you die!"

Saya bisa jamin, ketika baca paragraf ini Dika akan tertawa terbahak. Pipinya akan semakin chubby dan matanya hanya akan tampak selengkung saja.

Seretjeh itu memang Dika yang saya kenal. Saya bersyukur untuk ini, sebab sangat mudah membuatnya tertawa dan bahagia, tanpa perlu repot beli balon atau kembang gula demi membuatnya terhibur.

Di momen lain, tiba-tiba Dika menunjukkan sebelah tulang keringnya yang tidak cukup presisi, akibat kecelakaan yang pernah ia alami. Ia meminta saya untuk menyentuh betis berbalut jeans creamnya, seolah saya tidak percaya dengan ucapannya.

Panik dong saya, kan belum pernah sentuh betis laki-laki selain adek saya sebelumnya! Itupun dalam rangka iseng saja, untuk cabut bulu kaki pas lagi pada pura-pura terkapar bobo siang, saat saya butuh bantuan.

Belakangan saya pahami, seperti itu caranya Dika terbuka pada orang-orang yang dianggapnya dekat.

Dika adalah tipikal pencerita ulung, levelnya di atas sangat baik, bahasa lainnya itu kelas kakap. Namun, Dika itu pendengar yang payah.

Ia akan bercerita tentang banyak hal tanpa perlu diminta, cukup di-triger saja. Ia akan segera bercerita tentang buku yang habis dibacanya, atau buku yang dibacanya hanya sekilas, tentang teori ho'oponopono, tentang pekerjaannya, tentang ketertarikannya, pengalamannya gagal dan putus cinta, seperti apa dia di masa remaja SMA dan lain sebagainya.

Saya selalu suka cara Dika bercerita, caranya memilah-milah diksi dan menyusunnya menjadi rangkaian kalimat-kalimat, ia akan berbicara amat tenang, tipikal santun dan santai, jelas sekali ia menikmati kata perkata yang diucapkannya. Lalu kedua tangannya akan bergerak-gerak amat ritmis, seiring naik turun nada bicara dan tarikan napasnya.

Kalau sudah begitu saya hanya perlu tersenyum, memerhatikannya lamat-lamat, mengangguk isyarat mengerti, mengerutkan dahi isyarat tidak setuju dan hendak menginterupsi, sesekali melontarkan pertanyaan dan kembali menyimak dengan saksama.

Nah kalau sudah begitu, karunia Tuhan berupa waktu sepanjang satu hari 24 jam adalah waktu yang sangat kurang untuknya bercerita, karena selalu ada penjelasan dan pemaparan panjang untuk setiap pertanyaan dan ekspresi heran dari saya. Dan saya akan selalu punya stok pertanyaan untuk semua penjelasannya itu.

Layaknya mahasiswa komunikasi dan orang marketing pada umumnya, Dika akan selalu berpakaian dan berpenampilan rapi. Dika itu kayak tagline tempat laundy: Rapi dan Wangi. And damn! I love that kind of person!

Hidup Dika tidak akan menjadi tenang ketika rambutnya sudah mulai gondrong menyentuh telinga. Dan ia akan merasa 'lagi ganteng-gantengnya' kala brewok titisan Wak Doyok mulai bertumbuh di sekitaran janggut dan pipinya beberapa hari usai ia cukur.   

Saya tidak yakin bisa membayangkan bagaimana orang macam Dika menjani hidup di masa-masa putih abu-abu dahulu. Tidak pernah bolos sekolah, tidak pernah lupa bawa topi saat upacara, baju selalu dimasukan rapi dan perbuatan rapi lainnya.

Tipikal orang yang hidupnya amat lempeng seperti Dika adalah makhluk yang mustahil masuk ke dalam circle pertemanan saya. Mau di jaman sekolah maupun jaman-jaman saya mahasiswa. Well, pada prinsipnya Dika memang bukan kawan saya.

Allright! Dwi Andika Pratama, sepanjang saya belum bosan mengingatkanmu untuk mengurangi asupan kopi gunting, selama saya masih suka nyindir kamu untuk lari pagi agar smartband-mu lebih bermanfaat, maka selama itu pula saya tidak punya alasan untuk tidak sayang padamu.

Kepada orang yang tidak suka dijawab "sama-sama" ketika mengucapkan "terimakasih", selamat bertambah usia, selamat mengulang hari kelahiran dan selamat menjadi lebih dewasa.

Sebab saya punya stok "terimakasih kembali" dan "kembali kasih" yang melimpah, yang bebas kamu pilih untuk jawaban terimakasihmu. Maka, tetaplah menjadi pribadi yang cerdas, kompetitif dan menyenangkan untuk orang-orang disekelilingmu.

Karena kurus bukanlah jati dirimu, maka angan-angan diet amat tidak cocok denganmu, kudoakan semoga panjang umur, sehat selalu, dilimpahkan rejeki yang banyak, berkah dan halal. Kudoakan untuk kebaikanmu sekarang dan di masa depan.



With love,
Latifah Desti Lustikasari.
Share This :
Latifah

Latifah Desti Lustikasari, akrab disapa Latifah, Tifa, Fah, atau Ay! Blogger dan Penulis asal Lampung ini masih bergelar 'Calon Mantu' kok. Merima paket martabak tiap malem minggu.

avatar

Ada yg cerita udah punya cemceman. Kali ini beda. Ini serius. Orangnya gini dan gitu. berawal dari bgitu berahir dengan begini. Penasaran knpa bisa jatuh hati seyakin itu. Rupanya ini. Bangga sama kalen. Kompak. 😍

6 Juni 2020 07.10
avatar

Ada yg cerita udah punya cemceman. Kali ini beda. Ini serius. Orangnya gini dan gitu. berawal dari bgitu berahir dengan begini. Penasaran knpa bisa jatuh hati seyakin itu. Rupanya ini. Bangga sama kalen. Kompak. 😍

6 Juni 2020 07.11
avatar

Tuh kan bener. Ga cuma gua dik yang berkomentar tentang senyum di foto profilmu. Seseurian wae lah 😄

12 Juni 2020 22.38
Terimakasih sudah berkunjung. Silakan Berkomentar agar saya dapat mengunjungi balik blog kamu. Mohon maaf jika mendapati komentar dimoderasi, mengingat maraknya spam yang nganu.