[Done Read 08 Books] Kerlip Sang Bintang yang Hilang


Kerlip Sang Bintang yang Hilang — Anna Azlina


            Pertama kali melihat novel ini saya sedikit heran ‘Ini novel buatan presiden RI kah?’ Sebab di cover depan tertera nama Ir. H. Joko Widodo (Jokowi). Namun ketika mebuka halaman awal saya baru ngerti apa maksudnya. Ternyata Jokowi itu cuma endorsement (hehe). 

Memasuki halaman selanjutnya keheranan saya kembali memuncak sebab endorsement-nya banyak banget broh. Nyaris tiga halaman. Ajegile. Mulai dari Jokowi (presiden), Tere Liye (penulis), Bambang (Rektor UMS), dosen UGM, kandidat doktor, penikmat sastra, kepala sekolah, guru agama, petani, nelayan, mahasiswa uzur, dan masih banyak lagi
(oke empat terakhir karangan saya aja yang sedikit melebay). Tapi sumpah si penulis niat banget nyari endorsement.  

Kita akan dipertemukan dengan tokoh bernama Bintang. Seorang anak jalanan yang pandai melukis. Kisah bermula ketika Bintang yang sedang berjualan lukisan secara spontan menyelamatkan seorang anak jalanan yang dikejar-kejar oleh preman di daerah Gilingan, Solo. Sejak saat itu mereka bersahabat. Bintang kemudian mengajak Kerlip—anak yang dikejar preman—tinggal bersama di rumah yang lebih layak disebut gubuk reot. Sebelumnya bintang memang sudah tinggal di sana atas izin pak RT setempat.

Berdua mereka menapaki kehidupan dengan penuh semangat khas anak berusia sekitar dua belas tahunan. Untuk makan sehari hari, mereka menjual lukisan buatan bintang. Persahabatan mereka mulai diuji ketika kerlip dituduh sebagai pencuri dompet milik istri Tuan Tanah. Meskipun kak Tina—pemilik LSM Seroja yang perduli dengan anak jalanan—selalu baik hati membantu mereka, tapi entah mengapa Kerlip pergi tanpa pamit. Meninggalkan Bintang di LSM Seroja.

Meskipun pada akhirnya Bintang dengan kemampuan melukisnya berhasil menjadi pelukis sukses hingga membuat pameran sendiri. Kerlip tetap tidak ada kabarnya. Kemanakah sebenarnya Kerlip pergi? Mengapa Kerlip meninggalkan Bintang tanpa pamit? Akankah takdir kembali mempertemukan mereka?

Novel ini ditulis sangat sistematis dan rapih. Tapi jujur, malah membuat saya sedikit bosan membacanya. Berseting di kota Solo dengan menyebutkan nama-nama daerahnya seperti Polres Manahan, daerah Gilingan, Rumah Sakit Dokter Moewardi, Pasar Nusukan dan masih banyak lagi. Tapi saya tetap enggak terbayang tempatnya, sebab tidak dijelaskan lebih rinci. Mungkin juga karena saya gak pernah ke Solo kali ya (haha).

Maaaf tidak ada kutipan favorit. Sebab saya tidak menemukan kutipan yang membekas di hati (tsahh). Oke sekian. Bye~ bye~


*Done read 08 of 60 books must read in 2016


Tanggamus, 04 Februari 2016





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Silakan Berkomentar agar saya dapat mengunjungi balik blog kamu. Mohon maaf jika mendapati komentar dimoderasi, mengingat maraknya spam yang nganu.