Yang Harus Dipelajari Tempat Wisata Lampung, dari Muncak Tirtayasa


Sebut saja ini ide main yang tidak disengaja. Sebab ketika teman-teman ngode-ngode ngajakin ke Muncak Tirtayasa, saya dengan jumawa meng-iya-kan. Saya sih sangsi bakal beneran pergi. Apalagi rame-rame. Belum posisi kami yang gak strategis; satu di Kalirejo, satu di Metro, Satu di Tanjung Bintang, satu jomblo dan lain sebagainya. Pasti jadinya banyak mikir, banyak pertimbangan dan pance. Endingnya gagal.


Jadi ketika ditanya “Kapan kita bisa main ke Muncak Tirtayasa?” 

Sayapun iseng menjawab “Sekarang aja gimana?” Murni iseng sebenarnya. Eh, tetiba si gayung beneran bersambut jamban. Widihh, teman-teman menanggapi serius ide saya yang asal bunyi itu. Dan tannpa banyak basa-basi, jadilah kami beneran pergi ke Muncak Tirtayasa beneran. Saat itu juga Supersekali! haha.

Kak Aguus, Brand Ambassador Muncak Tirtayasa Pesawaran :D

Ini kali kedua saya main-main lucuk ke Muncak Tirtayasa. Masih segar di ingatan, kali pertama saya berkunjung saya dan teman-teman terlongo saat si abang penjaga pintu masuk mangatakan bahwa tiket masuk perorangnya seharga lima ribu rupiah. Outclude parkir tiga ribu rupiah untuk satu sepeda motor.

Bukan, bukan ini bukan termasuk mahal. Maksud saya, ini harga yang sepadan. Ya meski waktu saya di Jogja tiket wisata sejenis hanya tiga ribu rupah perorang dan parkir sepeda motor dua ribu rupiah saja. Tapi hellow! Jangan sirik, dan cobalah menerima kenyataan dengan ikhlas. Ini kita tinggal di tanah begal, bukan tanah surga. Saya justru curiga dengan tempat wisata nge-hitz yang mematok harga tiket masuk ‘murah’. Dalam tanda kutip. Pasti murahan! Saya yakin, akan ada dana printilannya.

Ya, saya memang selalu underestimate duluan, dan itu sangat beralasan. Berdasarkan pengalaman. Sebagai perbandingan saja, saat masuk ke Pantai Dewi Mandapa, yang harga tiket hanya 10 ribu (cukup murah). Tapi itu hanya semu. Hitungan 10 ribu untuk lewat satu portal. Untuk mencapai pantai setidaknya kita harus melewati dua atau tiga portal (maaf saya lupa). Dengan penjaga portal lebih mirip tukang jagal ketimbang petugas tiket tempat wisata.

Seolah belum cukup, masuk ke pulau buatan yang dinamakan pulau cinta (kayaknya) juga musti bayar lima ribu. Ada satu pulau buatan (entah apa namanya) bayar lima ribu lagi. Pas pulang, ditagihin lagi uang parkir sebesar lima ribu. Etdah!

“Itung aja sendiri sana, lo kudu ngerogoh kocek sedalam apa!” Iya aja kalau tempatnya sepadan, lha ini. Niatnya piknik bergembira, malah jadi bete kan!

Atau ketika mengunjungi Taman Batu Granit. Saya suka iseng browsing dahulu setiap mau berwisata walau lokasinya masih di dalam kota. Keppo aja “Seberapa update dan seberapa lengkap info wisata di tanah Sai Bumi Ruai Jurai kita tercinta ini?”

Di sana diinfokan bahwa Taman Batu Granit dulunya merupakan tempat wisata, yang mulai tahun 2009 sudah tidak dikelola lagi sebab sepi pengunjung. SUDAH TIDAK DIKELOLA LAGI. Camkan itu. Tapi faktanya tetep aja tuh, dijaga pemuda sekitar yang demen memeras wisatawan. Jika tidak ingin disebut preman. Miris! Gimana pariwisata kita mau maju coba?

Informasi yang Cukup Lengkap

Muncak Tirtayasa ini, konon merupakan sebuah tempat wisata yang berada di atas bukit. Dengan suguhan pemandangan teluk lampung yang menjadi pesonanya. Terletak di desa Tirtayasa, Pesawaran. Berjarak tempuh sekiar 30 menit dari pusat kota Bandarlampung. 

 Pemandangan di Muncak Tirtayasa

Saya sangat menghargai usaha pengelola yang memasang banner petunjuk arah di gang menuju desa muncak. Ya setidaknya meminimalisir kemungkinan mahasiswa kurang piknik ini untuk nyasar lah. Hal yang sering abai dilakukan oleh tempat-tempat wisata baru, yang sialnya kadang juga belum terdeteksi google maps.

Dikelola dengan Serius

Sesampainya di Muncak Tirtayasa, pengunjung cukup ramai warbyasahhh, mau foto aja antri dulu, wajar sih namanya juga tempat wisata baru. Masih hitz banget. Meskipun tidak memakai sistem secarik tiket, tapi Muncak Tirtayasa sudah dibuatkan semacam bangunan dan pagar pembatas permanen yang meyakinkan di sisi tebing. Bahkan lengkap dengan paving block sebagai lantai outdoor-nya. Tampaknya si pengelola memang serius membuat tempat wisata. Gak semata mau untungnya aja.

Maulida, si artis endorse nistagram, 

Menurut saya sih, tiket masuk segitu sangat sepadan dengan view yang akan pengunjung peroleh. Lenskep laut dan langit yang kompak membiru dan disebelahnya deretan perbukitan hijau yang sedap dipandang. Klop. Kak Fajar dan Kak Sefta aja kompakan pingin buat rumah di sini. Eh tapi, sebelum kebeli rumah beneran, bayangin aja dulu, punya balkon yang ngadep langsung ke teluk gini.

Angggap bakon rumah sendiri.

        Terus Berbenah Diri

Keseriusan pengelolaan Muncak Tirtayasa tidak cukup sampai tiket masuk yang dibayar sekali untuk semua rumah pohon. bahkan ditiap-rumah pohon diberi keterangan batas maksimal pengunjung yang diperkenankan naik ke atasnya. Tentu itu untuk keamanan para pengunjung. Duh sweet syekai ya, keamanan saya sebagai pengunjung sampai diperhatikan gitu. 

Ketika mahasiswa semester tua, menerawang skripsi dari atas rumah pohon :(

Salah satu indikator yang dapat memastikan sebuah tempat wisata baik adalah terus berinofasi dan berbenah diri. Teus memperbaiki apa kekurangannya. Saat pertama kali mengunjungi Muncak Tirtayasa, hanya ada dua rumah pohon. Itupun salah satunya terbuat dari bilah-bilah bambu yang meragukan. Sebulan berselang, rumah pohonnya jadi banyak euy. cukup pangling dan senang juga.

Ada rumah pohon di bawah sana

Rumah pohon yang lain lagi 

Spot favorit saya adalah tempat duduk bundar di dekat tangga ke bawah. Asli seru banget di sini. Angin yang bertiup kencang dari arah laut langsung menghembus hijab saya gitu. Seolah menerbangkan sisa-sisa kenangan masa lalu yang masih tak mau pergi, asikkk!

Spot Favorit Saya

Bersih dari Sampah 

Saya perhatikan nih, Muncak Tirtayasa ini cukup bersih dari sampah-sampah plastik yang berserakan. Dan saya sangat mengapresiasi hal itu. tinggal aja pengunjungnya yang tahu diri untuk turut serta menjaga kebersihan tempat ini. Dan semoga alay-alay yang suka coret-coret tempat umum juga bisa lebih pintar untuk tidak beraksi.

Tempatnya udah fotogenic sih, tapi modelnya enggak!

Puas foto-foto, kita bisa duduk-duduk syantikk di tempat yang telah disediakan. Entah deh apa sebutannya, macem kafe-kafe misbar tak beratap. Tentu saja masih berlatar pemandangan dataran yang berbatasan laut di bawah bukit sana. Tenang di sini terik matahari tidak akan terasa. terhalau rimbunan pepohonan disekitar tempat wisata. lagipulla angin dari laut, sedang semangat-semangatnya meniup kencang. Aman deh!

Ngerumpi-rumpi lucuk dulu kali ya

Saya memberikan rate sempurna 5/5 untuk Muncak Tirtayasa. Semoga tempat wisata lain di Lampung mengikuti jejak baik yang saya contohkan di sini. Saya yakin jika pengelola Muncak Tirtayasa menjaga tempat wisatanya, apalagi terus berbenah diri. Bukan tidak mungkin dua atau bahkan empat tahun lagi tempat ini masih akan eksis. Tidak semata mengikuti tren foto untuk diungggah ke sosial media yang cepat memudar. Apalagi jika dijaga kemanannya dari jamahan ajang premanisme. Peras-memeras wisatawan, pasti pengunjung juga senang. ya, mari berdoa bersama semoga kebiasaan primitif itu cepat memudar di tanah Lampung tercinta.

Secara, bumi sudah semakin menua. Mungkin kiamat sudah mendekat, situ masih aja nyari rejeki dari malak pengunjung. Seolah gak sadar, kita ini cuma setitik debu alay yang cuma numpang singgah di luasnya jagad raya. Cuma pengen tau aja sih, situ Oke! Ehehe


Spot andalan!
Tungaunya minus Via, semoga abis ini kita tetep temenan ya Vi!

Ini paragraf khusus untuk Via yang sibuk bisnis, jadi gak ikutan. Sesekali piknik Vi, jangan bisnis melulu. Gak ikutan pose bareng kita kan jadinya :D

Entah kenapa pada kesempatan ini, foto-foto menunjukan saya cuma jadi pengotor pasangan muda-mudi aja yah. Seperti pada gambar berikut. Ngenes sekali memang!


Perhatikan tanda merah!



Sekian, bye-bye!

Bandarlampung, 14 September 2016


20 komentar:

  1. Mayan nampak tampan gueh di foto blog inih 😆

    BalasHapus
  2. Mayan nampak tampan gueh di foto blog inih 😆

    BalasHapus
  3. Dari semua cerita, kenapa gue malah fokus ke lingkaran merah. hahahaha. TRAGIS!!! :D

    Untuk biaya 10K dengan view ketje kek gitu. Gue sih, mau banget malah. Tapi, kadang suka nemuin harga segitu, tapi viewnya. "Cuman ini nih?" -_-

    Btw, kalo ada foto alamnya lagi, tambahin ya LD, biar gue makin pgn ke situ. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Simple alasannya, sebab modelnya kece haha
      Ada sih bang tapi ini postingan pesenan anak2, biar gak tampak narsis banget ya gue kasih artikel. Kalo ditambah banyak pemandangan nanti kebanyakan gambar hehe

      Hapus
  4. Sumpeh, bagian lingkaran merah itu lucuk. Padahal waktu baca jadi pengin eh begitu ketemu lingkaran merah jadi ngakak. Haghaghag

    Thanks infonya, cantik banget!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kembali kasih Vie, itu emang sengaja, gak disengaj juga sih. sengaja untuk snapshoot tulisan. efek kejut. tapi mbidiknya juga gak sengaja sebenernya

      Hapus
  5. wah bagus juga tuh view nya buat foto foto :D apalagi gue nih yang suka fotografi , udah pasti enggak bisa ngelewatin momen momen kayak gini nih :) . hemmm itu di Lampung ya ? dulu gue pernah loh tinggal di lampung tahun 2008 - 2010 . Tapi gue baru tau nih ada tempat wisata muncak tirtayasa ? apa gue yang anak rumahan ya , makanya enggak tau ? haduuh . Tapi keren loh , bagus banget .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya KakJun, Muncak Tirtayasa emang wisata baru. baru buka beberapa bulan yang lalu, wajar kalau tahun segitu belum ada hehe.
      anyway ngapain tinggal di Lampung? terus sekarang tingggal di mana gitu? keppo nih haha

      Hapus
  6. Berapa sih bilang berapa sinih tak bayarin hahaha

    BalasHapus
  7. Keren. keren juga nih tempat wisata. kalo ada waktu backpakeran kesini ah. kemaren gue ke lampung ke pantai apa namanya gitu, gue lupa.

    pokoknya nyebrang ke pulau tangkil. kalo nggak salah.

    lampung kalo yg namanya pemandangan laut emang keren. gue acungin jempol. masih banyak yg harus di jelajahi. hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. apa Kak, mutun? daerah mana tuh?
      tempatnya juga cukup mudah di jangkau kok cuma sekitar 30 menitan dari pusat kota.
      iya bener itu, sama bali juga gak kalah keren, cuma belum tereksplore aja sih

      Hapus
  8. Kenapa coba dari sepanjang cerita ini aku tuh malah paling kepo sama gambar terakhir dan bulatan merah, coba. Plis, tolong selamatkan imajinasi aku yang tadi tentang Muncak.

    Ebetewe kok makin lama Lampung makin hits ya? Makin banyak berseliweran dimana mana ini, wisata di Lampung. Kerennnn dan bikin pengen traveling ke Lampung kaaannnn ahelah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebab aku sangat mempesona Cha, sehingga kamu terlalu terpesona padaku haha
      iya, perasaanku juga gitu, mungkin karena sekarang penduduknya mulai meninggalkan kebbiasaan primitif dan welcome sama wisatawan. semoga makin maju deh pariwisatanya hehe

      Hapus
  9. miris ya, nggak dikelola lagi... tapi malah dimanfaatkan oknum tak bertanggung jawab. lampung itu emang terkenal sama bukit dan pantainya, view dari bukitnya itu emang sedap...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya jev bener itu, mampirlah sesekali ke lampung

      Hapus
  10. Bener itu, selain akses jalan yang belum bagus, yang bikin males maen ke Lampung adalah pungutan liar. Padahal ya itu, Lampung punya potensi yang besar banget untuk dikembangkan jadi tempat wisata, salah satunya Muncak Tirtayasa. Berdoa saja, semoga ke depan nggak ada kelompok warga yang "tergiur" dengan tempat ini dan menjadikannya sebagai lahan "pemasukan tambahan"...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas mawi. Entahlah apa yang mereka pikirkan, terlalu primitif menurutku. Semoga ya, mindset mereka mulai membaik.
      Thanks udah mampir mas :)

      Hapus
  11. wahh pemandangan dari atas sana benar-benar terlihat sangat indah..

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung. Silakan Berkomentar agar saya dapat mengunjungi balik blog kamu. Mohon maaf jika mendapati komentar dimoderasi, mengingat maraknya spam yang nganu.