MASIGNCLEAN103

Seperti Menemukan Kepingan Puzzle

Puncak Bukti Sikunir, Dieng.

Seperti halnya siklus rajungan yang berganti cangkang, udang yang berganti kulit, atau ular yang berganti sisik, semuanya mengalir senormal dan sebiasa itu.

Saya kira, saya akan merasa amat mengharu-biru menghadapi patah hati sembari meratapi semua kenangan yang sudah terjadi.

Di luar dugaan, ternyata semuanya berjalan kemudian berlalu dengan biasa saja.

Satu hal yang selama ini hanya sebatas sebagai kekhawatiran, saya terlalu takut untuk merasa kosong, merasa kesepian dan merasa seorang diri.

Saya takut menghabiskan hari-hari membosankan dengan melakukan hal yang tidak saya sukai. Tanpa ada seorangpun yang peduli.

Padahal saya yang salah. Begitu congak mengenakan kacamata hitam, sementara cuaca mendung kelam di luar.

Pada kenyataannya, saya masih punya kalian-kalian yang peduli. Telinga-telinga yang senantiasa mau mendengar. Mulut-mulut berisik yang tak lepas menanyakan kabar. Bahu-bahu yang--tanpa diminta--justru menawarkan bersandar, barang sebentar.

Hati tulus dengan tangan-tangan yang terulur dan merentang lebar dengan penuh senyuman di batas tikungan.

Saya jadi ingat dengan seorang kawan yang mendadak mengajak jumpa dan menawarkan untuk berbagi V16 di malam masih dalam suasana lebaran.

"Biasane ki cah wedok nek kesuwen ndek umah, meh arek mbojo."

Sebenarnya saya ingin segera misuh. Tapi kemudian saya jawab, "kok isone ki lho!" Kemudian berujar, "aku malah ngeri 'e kesuwen ndek umah koyo ngene."

"Lha piye?" Herannya.

"Yo ngeri! Ojo-ojo jodoku ki asline cah sak uteran tonggoku kui mau 😝. Piye, medeni tho!"

Ia terbahak menanggapi curhatan, kehawatiran diri saya.

Dan saya kira, saya butuh meluangkan waktu lama untuk mengurusi dan menyembuhkan luka. Namun pada kenyataannya sedikitpun tidak ada yang tergores.

Saya sudah terlanjur biasa akan kehadirannya. Namun tanpanya pun, tidak terjadi apa-apa.

Seperti pesta yang baru saja bubar, saya terlalu fokus kepada para tamu yang satu persatu pamit undur diri. Padahal tugas saya baru saja di mulai: berberes lokasi untuk difungsikan seperti sedia kala.

Saya lega, merasa menemukan kembali ritme hidup yang ternyata mulai saya rindukan. Saya lega, bisa kembali mengacau untuk kemudian pertanggungjawabkan atas apa yang telah saya sendiri perbuat.

Saya tahu atas kesalahan diri, sebab itu hal paling bijak yang musti saya lakukan adalah tetap diam dan mulai mendengarkan. Saya kira, dengan begitu akan ada hati yang merasa dimengerti.

Diam-diam saya bersyukur telah berbuat kesalahan, sebab itu saya tahu harus dari mana mulai memperbaiki.

Dari itu saya belajar, untuk tidak mengarungi rute yang serupa. Belajar pula untuk merelakan kelopak harapan yang layu setelah berkembang. maau bagaimanapun bunga yang mekar harus siap layu dan berguguran.

Pada akhirnya, saya menemukan kepingan lain diri saya. Inilah kehidupan yang harus saya tempuh. Bersama orang-orang yang memang mafhum sifat dasar saya. Mereka yang Semesta kirim untuk senantiasa ada di lingkaran kehidupan saya.

Tidak peduli seberapa sering saya berbuat kesalahan, tidak peduli seberapa besar kesalahan itu, mereka akan tetap ada dan menerima saya apa adanya. Dan mengembalikan denyit hidup saya menjadi normal kembali.

Memberi saran jika memang diperlukan. Mengingatkan ketika saya khilaf. Memaafkan ketika saya salah. Menawarkan solusi ketika saya ada masalah. Dan memberi perlindungan ketika saya rapuh.

Seperti aliran air yang selalu mencari hilirnya, bukankah seperti itu fase kehidupan, bertumbuh dan menjadi dewasa. Ya, seperti itu siklus alami menemukan keping demi keping puzzle jati diri, bukan?
Share This :
Latifah

Latifah Desti Lustikasari, akrab disapa Latifah, Tifa, Fah, atau Ay! Blogger dan Penulis asal Lampung ini masih bergelar 'Calon Mantu' kok. Merima paket martabak tiap malem minggu.

Terimakasih sudah berkunjung. Silakan Berkomentar agar saya dapat mengunjungi balik blog kamu. Mohon maaf jika mendapati komentar dimoderasi, mengingat maraknya spam yang nganu.