Sanitasi Kecamatan Panjang Undercover Part 2

sanitasi di panjang

Oke, kalau kamu belum membaca cerita sebelumnya langsung kunjungi tautan INI.

Gak puas dengan data yang diperoleh tanggal 26 lalu, aku dan Novi kembali lagi ke Panjang Selatan beberapa hari kemudian, tanggal 29. Kali ini kami berencana mencari imbangan data dari pihak instansi terkait, yaitu Sanitarian dari Puskesmas. 

Sebelum ke sana aku sempat menghubungi pihak panitia untuk minta semacam surat tugas. Tapi sayangnya Mbak Eni gak bisa menerbitkan. Mungkin ini buat pihak panitia, kalau kedepannya nanti akan menggelar acara serupa. Tahu sendiri kan kalau berhubungan dengan instansi pemerintahan kita pasti semacam bola pimpong yang gunanya dilempar sana-sini. 

Dan gak lupa, aku juga sempat menghubungi pihak dinas kesehatan kota (Pak Ajib) via WA. Beliau mempersilakan saya untuk langsung menghubungi sanitarian Puskesmas Panjang (Pak Waluyo). Tapi, sayangnya sesampainya di Puskesmas si bapak sedang sibuk (katanya). Dan karena kami enggak bawa surat tugas dan tetek bengeknya beliau tidak mau buka suara terkait permasalahan sanitasi di daerahnya.

Seperti lagu lama yang sumbang pada umumnya, beliau berdalih tentang birokrasi yang mbulet itu. Intinya beliau mau kami wawancarai kalau ada surat oersetujuan dari dinkes kota yang dikirim ke kepala puskes dan setelah si kepala puskes itu juga setuju. Entahlah, mbuletisasi gitu. 

Seberapapun aku dan Novi berdalih dan bersilat lidah, jangankan mengobrol santai, si Pak Waluyo ini bahkan gak mau mempersilakan kami masuk atau duduk layaknya tamu. Menyedihkan sekali ya jadi pengepul data ini HAHA.

Kontras banget sama pernyataan staf Pak Agus (Kepala DinKes) saat acara pembekalan, yang mengatakan bahwa kami tidak akan dipersulit untuk mengumpulkan data perihal sanitasi ini. Tapi kenyataannya lobian kami enggak empan coy. Bawa nama Pak Agus aja gak ngaruh.

Di sini aku jadi mempertanyakan, gimana isu sanitasi ini mau jadi seksi dan jadi prioritas, wong dibantu oleh media untuk memblow up isunya aja mereka enggak mau support. Jadi sebenernya yang bikin enggak seksi itu siapa?

Its okey, kalau memang data real itu milik negara dan bersifat sangat rahasia. Sehingganya kami rakyat jelata ini enggak boleh tahu. Aku enggak butuh datanya secara data dari aplikasi STTB Smart aja udah lebih dari cukup. Aku cuma butuh suara dari pihak yang dinilai berkompeten aja udah cukup. *ditulus dengan KZL*

Cari Pak Lurah dulu deh!


Gak berhasil mengorek data dari Puskesmas Panjang, aku dan Novi bergerak ke kantor kelurahan. Berbeda dengan Pak Sanitarian, Pak Lurah lebih welcome dengan kami. Meski awalnya juga menanyakan perihal surat tugas. Tapi setidaknya kami dipersilakan duduk layaknya tamu pada umumnya. Dan ketika diajak mengobrol santai beliau tetap welcome.

Lucunya saat aku perlihatkan data real dari STTB Smart beliau tercengang sendiri, sebab aku yang bukan orang situ tahu berapa jumlah KK di kelurahannya. Lengkap dengan berapa jumlah warga yang masih BABS, yang sudah akses sanitasi hingga yang punya jamban sehat. Yaiyalah ya, mental kami kan mental netizen jurnalizm. Kalau perkara korek-korek data itu paling militant lah pokoknya. HAHA!

Kemudian obrolan mengalir begitu saja. Si bapak lupa dengan kami yang illegal. Alias gak punya surat tugas. Bahakan beliau bercerita tentang perihal kebiasaan BABS warganya tanpa perlu kami minta.

Sambil membenarkan letak kacamanya, beliau bertutur. “Di sini mayoritas buruh. Apa yang diperoleh hari ini, habis pula hari ini. Siapa pula yang ingin hidup susah, kalau BAB di laut, ombak datang kena ombak. Hujan kehujanan. Panas kepanasan. Kalau berbicara mau, pasti mereka mau memiliki jamban sehat sendiri di dalam rumah. Tapi dana dari mana?”

Intinya factor ekonomilah yang menjadi kendala utama warga di pesisir Kecamatan Panjang ini masih BABS. Aku sebenernya penasaran, menurut pihak sanitarian, faktor apa ya penyebabnya? Sebab dalam materi di hotel Batiqa lalu, kebiasaaan buruk pun masuk ke dalam daftar.

Dan ketika saya ceritakan perihal ODF di Kabupaten Pringsewu yang sudah 100% lengkap dengan arisan jamban dan program jamban sehat. Si bapak lurah melongo. Mengakui belum pernah ada pencetus program serupa di kampungnya. 

Rasa-rasanya kupengen bilang “Bapak, warga sini, dan pihak instansi terkait di daerah sini ke mana aja Pak?”

Pringsewu utamanya kecamatan Pagelaran yang empat tahun lalu menjadi lokasi OD terparah sekabupaten sekarang udah 100% ODF, elo masih terkesima denger ada yang namanya arisan jamban. Duh-aduh mama sayang e!

Dari sini aku jadi sadar, ternyata hidup dekat dengan pusat kota dengan segenap gemerlap modernisasi gak serta-merta membuat rakyatnya kian berfikir maju dan cerdas yah. Miris deh!

Cerita ODF 100% di Kecamatan pagelaran akan kuceritakan di postingan selanjutnya.

Kembali Ke Kampung Harapan Jaya


Kalau kemarin kunjungan kami sampai pesisir Kampung Rawa Laut, hari ini aku dan novi langsung menuju pinggiran Kampung Harapan Jaya. 

Di daerah pesisir ini, suasana tujuh belasannya masih kerasa bangettt. Gang-gang penuh bendera merah-putih yang saling menyilang. Bahkan pesta rakyat dan pembagian hadiah lomba baru akan digelar malam nanti.

Sayangnya di peringatan kemerdekaan ke 73 ini, warga sini belum merdeka dari kebiasaan BABS. Di Harapan Jaya juga enggak kalah mengenaskan keadaannya. Emang di pesisirnya enggak terlihat jamban cemplung di pinggir laut. Tapi warga yang tinggalnya dekat sekali dengan pantai masih mengalirkan pembuangan tinjanya ke laut. 

Ketika salah satu ibu kutanyai pendapat perihal septick tank komunal untuk beberapa rumah. Beliau berekspresi seolah risi namun gengsi dan berkata. “Ya kalau mau buat septic tank, buat sendir sajalah. Tapi kan susah ini rumah kalau digali langsung penuh sama air laut. Mending langsung aja buang ke laut.”

Rasanya kupengen menjawab. “Lha ya iye Bu, gue juga tahu, kalo ini rumah berdiri di atas sampah yang memadat, bersama batu karang, lha mustahil tho digali. Makanya kuberi opsi untuk membangun septick tank komunal, biar lebih hemat juga kan. Itu situ malu kan ditanyain perihal jamban yang dibuang ke laut. Sok gengsi sih.” Yang kemudian hanya kutelan bulat-bulat untuk diri sendiri.

Entahlah, sebenarnya warga di sini pernah enggak memperoleh edukasi perihal bahaya ODF. Kenapa ada stunting, kenapa biaya BPJS sampai membludak untuk ngurusi orang diare. Apakah tidak ada satu pihakpun yang peduli? Sebenarnya ini salah siapa? Aku sekarang ada di mana? Namaku siapa?!?
HAHAHA! 


To be continue…..

Salam sayang, Latifah



Discalimer
Panjang naskah 976 kata
Tugas ODOP Day 5 #KomunitasOneDayOnePosting #ODOP_6 

6 komentar:

  1. Panjang? Mungkin kita bisa bersama melakukan suatu kebermanfaatan disana. Tetap semangat. Kalo sudah disuguhkan dg birokrasi, oper mengoper bak bola basket itu jadi makanan rutin. KZL sering. But, yaah, we should do something.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak bener, sebenernya tujuan acara ini juga memblow up isu sanitasi agar dilirik. Selama ini kan isu yg hot selalu gak jauh dari berita kawin cerai artis

      Hapus
  2. Mb ini dari pusat kota ada gak ya tranportasi selain ojol. Semacam bus atau BRT atau angkot gt. Pengen kesana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksudnya macem angkot gitu kan ya, ada mbak cuma aku tidak ingat angkotnya awarna apa dan rutenya samapai mana. Sebab gak pernah naik. Lebih enak ojol sih

      Hapus
  3. Mantu, i feel u saat mau nyari data dan orang yang bisa hubungi. Emm tampaknya next event panitianya kudu persiapan lebih.
    Tapi tetap semangat menulis ya mantu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener bu, aku sampe konsultasi le temen2 jurnalis. Dan emang katanya tantangam terbesar jurnalis ya itu. Ngumpulin data

      Hapus

Terimakasih sudah berkunjung. Silakan Berkomentar agar saya dapat mengunjungi balik blog kamu. Mohon maaf jika mendapati komentar dimoderasi, mengingat maraknya spam yang nganu.