MASIGNCLEAN103

Seberapa Dekat Jarak Ekonomi Digital dengan Denyut Nadi Kehidupan Generasi Milenial?

ekonomi digital

Terlahir sebagai generasi milenial merupakan sebuah nikmat Tuhan yang gak patut untuk didustakan. Bagaimana tidak, istilah dunia dalam genggaman benar-benar nyata adanya, lengkap dengan segala penawaran kemudahan teknologi dan kecanggihanya. 

Nah, sebagai sesama generasi milenial, kadang saya jadi sering mengamati perilaku kehidupan sosial kalangan sendiri. Kadang kita gak sadar bahwa ada tiga hal yang amat dekat dengan kehidupan generasi kita pada umumnya. Tiga hal itu antara lain: Gawai, Jalan-Jalan dan Kulineran. Tiga hal ini menurut saya, serupa etintas yang tidak bisa terpisahkan dari hari-hari kita.

Bahkan nih, tingkat urgensinya lebih tinggi daripada kebutuhan pokok manusia--sandang, pangan dan papan--itu sendiri. Lha gimana tidak, wong kebutuhan pokok itu masih bisa nebeng pada orangtua kan. Sementara kalau kebutuhan pokok generasi milenial ini mustahil untuk saling nebeng.

Kawan yang jalan-jalan alias traveling, lalu kita yang update di sosial media demi panjat sosial? Kan gak mungkin dong! Atau kita yang nge-vlog kuliner terhitz di kota, kemudian orangtua kita yang viral di sosmed, apa pula ini!

Kalau berbicara kulineran, saya jadi pingin berbagi cerita, nih. Suatu hari, ernah saya niat banget untuk mengunjungi expo kuliner di kota sendiri dengan bekal uang selembar seratus ribu yang baru saja ditarik tunai dari mesin ATM. Tujuan saya sih kala itu beli es kopi susu yang lagi in banget di instagram. Penasaran sekali dengan rasa kopi seharga dua belas ribuan itu.

Tapi nahas banget deh nasib saya, sebab sepertinya di tanggal muda itu semua orang gak punya uang pecahan bernominal kecil. Baik saya—sebagai pembeli,  maupun si penjual hingga tetangganya si penjual es tidak memiliki cukup uang kecil untuk ditukar.

Kami sudah berusaha menukar uang ke mana-mana, namun hasilnya nihil. Semua orang mendadak hanya memiliki pecahan uang seratus ribu dan lima puluh ribu saja di dompetnya. 

KZL? 

Sudah pasti, dong!

Tapi mau bagaimana lagi, masa uang seratus ribu rupiah itu mau dipakai untuk memborong es kopi susu semua, bisa kena tifus dong saya besoknya. Atau mau diikhlaskan kembaliannya. Lantas, saya mau beli bensin pakai apa besok? 

Endingnya tragis, sebab saya gak jadi membeli es kopi susu yang hitz itu. Saya pulang engan kehampaan. Mendadak uang sebesar seratus ribu rupiah tidak ada artinya.

***

Terbayang gak sih, kalau cerita serupa terjadi disetiap lini kehidupan, misal membeli pulsa, membayar transportasi, hingga membeli kebutuhan sehari-hari. Terbayang gak seberapa banyak kejadian macetnya perputaran roda ekonomi, akibat persebaran pecahan uang yang tidak merata. 

Oleh sebab itu, ketika saya mendengar adanya Festival Kanikan—dengan peserta berupa tenant-tenant kuliner kekinian di Lampung, saya langsung antusias luarbiasa. Sebab, sistem pembayarannya yang berbeda dari biasanya ala kids jaman now banget. Yaitu dengan saldo aplikasi e-money.

Jadi gak perlu deh saya mecahin uang seratus ribuan itu ke nominal yang lebih kecil hanya demi jajan es kopi susu. Atau menunggu si penjual menukarkan uang saya ke penjual lain demi memberikan kembalian yang pas.

Sebab, membayarnya cukup dengan mendekatkan ponsel ke QR Code yang ada di tenant, input nominal pesanan, input 6 digit pin rahasia. Dan es kopi susu sudah bisa disruput di bawah guyuran cahaya matahari kota Bandarlampung yang gak santai. Tentu setelah saldo e-money terlebih dulu di-top up ya. 

“Ah, I love fintechhh!” Sabil nyeruput es kopi susu. Enak!

ekonomi digital
Ketika bayar, semudah scan QR Code
(Sumber: https://www.instagram.com/p/Bm-O4VlBDmW/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=n6thk6v2tqzg)

Segalanya terasa menyenangkan tanpa ribet mikirin uang kembalian yang kurang, ternyata uang pecahan nominal dua ribuannya lecek luar biasa, atau ternyata uang kembaliannya terjatuh di parkiran. Haha!

Saya jadi berandai-andai, kalau someday kita officialy enggak perlu ribet bawa-bawa dan pegang-pegang banyak nominal uang untuk membayar tagihan-tagihan rumah tangga, berbelanja hingga sesederhana jajan. Cukup pakai smartphone yang selalu dalam genggaman tangan itu, maka semuanya terbayarkan. 

Gak akan ada kekhawatiran dompet ilang, cek sisa uang lebih gampang, atau bahkan uang yang kita miliki ternyata palsu. Lalu bertransaksi jadi semudah swipe-swipe smartphone dan memasukan 6 digit pin. Asoy! 

Ya, memang tidak dimungkiri, dewasa ini sistem pembayaran lambat cepat laun mulai beralih ke sistem non-tunai. Misal saat membayar tol, membayar tarif kapal very, jasa ojek online, hingga booking hotel, pesawat dan kereta, bahkan sampai membeli tiket nonton bioskop. Benar benar kemudahan ada dalam gengaman.

Tapi di posisi sitem peralihan dari pembayaran tunai ke non-tunai seperti saat ini, gak sedikit dari kita—apalagi orang yang usianya di atas kaum milenial—merasa khawatir terhadap jaminan keamanan atas uang yang dimiliki. Ya gak?

Apalagi menggunakannya semudah menggenggam gawai, bisa saja suatu saat itu hilang. Semudah memasukan 6 digit pin, bisa juga suatu saat bocor dan diketahui orang yang bermaksud jahat. Atau bahkan seperti alur film yang bercerita tentang hacker di mana gampang banget meretas sistem keamanan bank. Kemudian ludes sudah uang kita yang disimpan dalam bentuk e-money. Ngeri-ngeri-sedap ya membayangkannya.    

Ya, terlepas dari kemungkinan itu, kita juga sebagai konsumen kudu tahu bahwa yang namanya film itu hanya cerita fiksi. Meskipun kemungkinannya ada. Tapi alangkah lebih bijak, sebelum kita terlena atau trauma dengan kecanggihan sistem pembayaran masa kini, kita mengetahui terlebih dahulu seluk beluk dari alat pembayaran non-tunai, agar bertransaksi tetap di garis normal, alias bertransaksi dengan aman.

Di Negara kita sendiri, alat pembayaran berbasis non-tunai, terutama berbasis kartu sudah diperkenalkan sejak tahu 2007. Ya, sudah lebih dari 10 tahun yang lalu. Tren pembayaran lama memang mulai tergeser dengan cara pembayaran yang kekinian, tapi sayangnya masih banyak masyarakat Indonesia yang belum sepenuhnya yakin untuk bertransaksi non-tunai dengan alasan khawatir dengan faktor keamanan dan tidak menahu cara menyimpan si sitem. 

Tak Kenal E-Money Maka Tak Takut Menggunakannya 

Nah sebagai konsumen, kita wajib tahu bahwa e-money (uang elektronik) yang biasa digunakan untuk membayar ojek daring hingga bertransaksi di online shop itu memiliki karakter mendasar seperti dapat digunakan untuk transaksi cepat, frekuensi penggunaan yang tinggi, bisa digunakan oleh banyak orang, nilainya terbatas dan bukan termasuk simpanan. 

Sebuah alat pembayaran sendiri, dapat dikatakan atau dikategorikan sebagai e-money ketika ia memenuhi unsur seperti: Diterbitkan oleh pihak tertentu karena berdasarkan nominal uang yang disetrokan terlebih dahulu oleh pemilik. Jadi uang kita hanya berganti wujud saja.

Selanjutnya uang yang kita setor itu disimpan pada sebuah piranti bisa berupa server atau chip. Bagian ini jangan terlalu dibayangkan, sebab akan membikin pusing.

Nah selanjutnya, barulah kita dapat menggunakan uang ini untuk bertransaksi dengan mudah. Tapi ingat, pelaku transaksi bukan pihak penerbit si uang elektronik itu. Seperti saat saya membayar es kopi susu di Festival Kanikan menggunakan saldo go-pay. Tentu si penjual es bukanlah dari gojek.

Nah, perlu diketahui juga bahwa uang yang kita setorkan dan telah diterbitkan sebagai uang elektronik itu bentuknya bukan simpanan. Jadi jangan berharap e-money kita akan ada bunganya, ya. Kita gak sedang menabung.

Tips Bertransaksi Non-Tunai dengan Aman Ala Kids Jaman Now

Terdapat empat alat bertransaksi non-tunai yang paling sering digunakan saat ini, kalau kamu sering menggunakan yang mana? Coba yuk, kita cek bagaimana agar transaksi kita tetap aman.

1. E-Money

Nah saya pribadi cukup senang menggunakan sistem pembayaran satu ini, karena tidak berbentuk. Jadi bikin penasaran haha. Jika kamu juga sering menggunakannya, langka pertama pastikan rutin mengecek saldonya secara berkala. Ini bertujuan untuk menghindari transaksi berlebihan di luar kendali kita. 

Pastikan juga 6 digit pin itu cukup rumit dan hanya diri sendiri yang mengetahui. Karena jika kehilangan e-money kurang-lebih sama ketika kita kehilangan uang dalam wujud fisik. Ya, mustahil dicari dan ketemu lagi.

Untuk berjaga-jaga pastikan selalu mrnyompan nomer call center pihak penerbit e-money. Lebih bagus lagi jika kita mengetahu dan mempelajari syarat dan ketentuan yang berlaku jika terjadi masalah.  

2. Kartu ATM

Sistem transaksi ini berwujud kartu, favorit saya kalau sedang belanja di online shop atau di mall, nih. Berbeda jenis tentu berbeda pula perlakuannya. Jika menggunakan ATM hal utama yang harus dipedulikan adalah PIN. Pastikan PIN menggunakan kombinasi angka yang cukup rumit sehingga tidak mudah ditebak. Tanggal lahir itu sudah terlalu umum, saya tidak menyarankan. Kecuali tanggal lahir mantannya temennya temenmu, boleh tuh. Asalkan kamu cukup hafal di luar kepala.

Lindungi kerahasiaan PIN kartu ATM sendiri dengan agak menutup pergerakan tangan saat menginputnya ketika bertransaki dan pastikan PIN itu secara berkala setiap beberapa minggu sekali. 

Ketika bertransaksi langsung, perhatikan pula mesin ATMnya. Bisa menggunakan ATM yang dilengkapi semacam pelindung keypad. Waspadi pula bentuk fisik mesin ATM, jika dirasa ada yang janggal lebih baik tinggalkan dan cari mesin ATM yang lain.

Jika sudah selesai bertransaksi, pastikan segera ambil kartu ATM tersebut dan juga bukti transaksinya. Simpan baik-baik terutama kartu ATM pada tempat yang aman. Jika terlanjur hilang atau tertinggal setelah melakukan transaksi di mesin ATM, segera lakukan pemblokiran dengan menghubungi call center pihak bank. 
  
3. Kartu Kredit

Kalau saya pribadi enggak memiliki kartu kredit ya, sebab masih mahasiswa juga. Tapi kartu kredit juga merupakan alat pembayaran non-tunai , mari kita bahas.

Pastikan kartu kredit disimpan dengan aman lengkap dengan kerahasiaan nomor kartunya terutama tiga digit angka paling belakang. Setiap selesai bertransaksi simpanlah struk pembayaran, ini penting banget untuk memastikan tagihan kartu sesuai dengan transaksi yang dilakukan.

Jika akan bertransaksi secara online, pastikan menggunakan situs belanja yang aman dan terpercaya. Apalagi jika frekuensinya sering, unduh saja aplikasi pengaman untuk menghindari pembajakan kartu kredit.

Yang terakhir sudah jelas, agar selalu menyimpan call center pihak bank yang bersangkutan untuk mengatasai masalah-masalah tak terduga dan tak diinginkan. 

4. Kartu Debit

Selanjutnya ada kartu debit, ini sekilas hampir mirip dengan kartu ATM. Selalu pastikan ketersediaan dana di rekening tabungan tersedia. Terutama setelah selesai bertransaksi, rutinlah mengecek jumlah dana apakah terjadi transaksi sewajarnya atau justru sebaliknya.

Simpan selalu kartu di tempat yang strategis dan aman. Saat bertransaksi pastikan PIN tetap terjaga kerahasiaannya. Bahkan setelah selesai bertransaksi, kartu dan struk pembayaran harus disimpan kembali dengan aman. Jika terjadi hal yang tidak diinginkan, seperti kehilangan kartu segera melapor pada call center. 

Permasalahan Sistem Pembayaran Non-Tunai 

Sudah tahu tipsnya, saatnya kita berhati-hati dalam bertransaksi saat menggunakan jasa non-tunai, karena ada beberapa permasalahan yang tergolong tindak kejahatan yang mengintai kita, sebagai konsumen. Apa saja? Berikut dafttarnya:

1. Skimming

Istilah skimming cukup populer akhir-akhir ini karena salah satu jasa perbankan menjadi korbannya. Skimming pada prinsipnya menggunakan suatu piranti untuk mencatat atau mengirimkan informasi, dari sinilah awal mula terjadi cloning kartu ATM untuk kemudian digunakan menarik tunai ATM yang tercloning. 

Jika terjadi pada mesin ATM, biasanya bentuknya serupa plastik atau plester yang ditempatkan di atas card reader ATM yang asli. 

2. Pembajakan 

Pembajakan ini seringnya terjadi pada SIM Card, di mana biasanya pelaku datang ke gerai kartu yang bersangkutan untuk memperoleh simcard dengan identitas palsu. Dari sinilah ia akan mulai menelepon call center dan meminta mereset internet banking. 

Pembajakan ini jarang terjadi, karena umumnya kita sebagai konsumen menginput banyak data personal sebagai gerbang keamanan yang berlapis.

3. Malware

Permasalah ini yang patut kita perhatikan, karena malware ini bersarang pada browser nasabah—kita, alih alih di website bank. Malware disebar oleh pelaku untuk memperoleh username dan password milik korban. Terkadang korban tidak sadar saat diminta untuk menginput semacam token sonkronisasi.

Jika sampai korban memasukan data pada pop up sinkronisasi, maka pelaku malware akan dapat menerima kode token untuk kemudian disalahgunakan . Malware memang erat kaitannya dengan transaksi secara online di internet.

4. Phising

Metode kejahatan ini bkerja dengan mencuri data pribadi milik korban menggunakan website palsu. Web ini seringnya sangat mirip dengan aslinya. Kemudian para pelaku menjebak korbannya dengan menyebarkan link adress palsu dari si website yang begitu tampak mirip dengan aslinya. Sehingga dapat mengundang korbannya untuk mengaksesnya. 

Kita Konsumen, Kita Dilindungi

Sebab tiada gading yang tak retak. Pribahasa ini mengajak kita supaya tidak khawatir berlebihan dalam menggunakan sistem transaksi non-tunai. Sebab meski permasalahan tetap ada namun kemudahan dan keamanan kita sebagai konsumen jasa pembayaran tetap diutamakan. 

Jadi sebagai pengguna jasa, yang memanfaatkan sistem pembayaran baik tunai maupun non tunai dijamin kepastian dan perlindungannya oleh hukum. Cakupan fungsi perlindungan ini antara lain:

Edukasi, pemahaman terhadap produk jasa pembayaran yang ditawarkan pada konsumen ini termasuk dalam perlindungan lho. Jadi sebelum menggunakan suatu jasa non-tunai alangkah lebih baiknya kita menggali dahulu sistem yang ditawarkan. 

Konsultasi, Nah, inilah muasabab saya selalu menekankan untuk menyimpan nomer call center penyedia jasa pembayaran non-tunai, karena jika terjadi permasalahan kita bisa berkonsultasi langsung untuk kemudian mencari titik terang atas permasalahan sistem pembayaran tersebut.

Fasilitasi, tentu saja termasuk fasilitas jaminan kemudahan sistem pembayaran hingga penyelesaian jika ada sengketa perdata antara konsumen.

Ingat ya, sebabagi konsumen kita dilindungi oleh badan hukum yang ada di negara, jadi jangan khawatir mmerugi sebab beralih ke transaksi non-tunai. Maka jika terjadi masalah saat melakukan transaksi baik saat penarikan atau pemindahan dana jangan segan-segan untuk melapor. Baik APMK (Alat Pembayaran Menggunakan Kartu) maupun e-money, transer uang, penyediaan dan penyetoran uang hingga penyelenggaraan sistem pembayaran semuanya masuk ke dalam lingkup perlindungan konsumen.

Kalau sampai timbul kegiatan yang tidak sewajarnya atau permasalahan, segera lapor ke pihak terkait dan usut. Ingat sebagai konsumen kita ini dilindungi dan memiliki hak atas itu.

Atau kalau kamu bingung bagaimana cara mengadukannya, terutama pada pihak Bank Indonesia (BI), kamu bisa melakukan penyampaian seperti berikut:

Pengaduan melalui contact center BI (BICARA)
Contact Center : BICARA 131
Telepon : 021-131
Email : bicara@bi.go.id
Fax : 021 3861 458
Surat : Visitor center, Lt. 1 Menara Sjafruddin Prawiranegara bank    Indonesia, Jl. M.H. Thamrin no.2 Jakarta Pusat 1350        

***

Nah, berdasarkan cerita saya di awal tulisan, penggunaan gopay sebagai alat bertransaksi hanya contoh kecil penggunaan e-money untuk bertransaksi dewasa ini. Bahkan di festival jajanan kuliner kekinian yang baru-baru ini kembali digelar di Elephant Park Bandarlampung tetap menggunakan metode e-money untuk bertransaksi antara konsumen dan pedagang.

Yaitu dengan menggunakan BRI Mobile, meskipun jasa penyedia layanan berbeda namun pada prinsipnya sama. Meninggalkan sistem pembayaran tradisional ke sistem yang lebih modern yaitu e-money. Mungkin di awal penggunaannya akan terasa ribet, namun sejatinya menggunakan sistem pembayaran non-tunai itu jauh lebih mudah.

Salah satu contoh registrasi, top up hingga transaksi dengan jasa e-money BRI Mobile

Saya pribadi, sebagai generasi milenial murni, sudah mulai terbiasa dengan e-money, sebut saja saat melakukan booking tiket kereta dan hotel menggunakan traveloka lantas dibayar melalui kartu ATM, lebih mudah karena ketika sampai destinasi sudah tinggal chek in saja. Atau saat memesan makanan melalui grabfood dan pesan ojek online dengan membayar menggunakan OVO, lebih gampang sebab gak perlu menyiapkan uang pas untuk bertransaksi. Hingga membeli tiket bioskop dengan membelinya melalui tix.id dan membayar menggunakan saldo DANA. In favoritku sebab gak perlu khawatir kehabisan tiket nonton film yang ditunggu-tunggu. 

Seperti kata pepatah: Bisa karena terbiasa!

Nah, kalau kamu gimana, sedekat apa ekonomi digital dengan sendi-sendi kehidupanmu? Atau jangan-jangan baru mulai PDKT nih sama si fintech itu sendiri?


Salam sayang, 
Latifah

Share This :
Latifah

Latifah Desti Lustikasari, akrab disapa Latifah, Tifa, Fah, atau Ay! Blogger dan Penulis asal Lampung ini masih bergelar 'Calon Mantu' kok. Merima paket martabak tiap malem minggu.

avatar

wah tulisannya lengkap banget. btw aku sih selama ini udah mulai menggunakan non tunai dalam bertransaksi. selalu gunakan debit. tapi kalo ke pasar ya saya tetep menggunakan uang tunai. karena pasar ga akan tergantikan ya,. kecuali suatu saat nanti akan ada pasar dengan fasilitas EDC.

8 Februari 2019 10.48
avatar

Wih mantap banget, aku sih masih setia menggunakan ATM. Belum pernah pakai e-money meskipun beberapa kali pingin coba. Karena belum paham jadi masih maju mundur cantik.
Informasi nya keren nih, makasih ya Bermanfaat sekali.

8 Februari 2019 11.45
avatar

lengkap banget ulasan mengenai ekonimi digital termasuk digital money yang sekarang digunakan dalam banyak bidang.

12 Februari 2019 12.53
avatar

Bisa untuk pertimbangan nih,, saat ini masih belum banyak menggunakan non tunai saat berbelanja, lah wong masih di pinggiran kota yang masih jauh dari keberadaan fasilitas. Baik itu orang orang nya juga. Tapi bagus nih ulasannya jadi nbah wawasan biar ga terlalu kiper pas pergi ke kota hiks..

12 Februari 2019 13.31
avatar

Makin mudah bertransaksi di era digital memang asyik, asal ga gesek terus hehe, harus bijak. Dan tetap perhatikan keamanan terkait akun juga pin kita.

12 Februari 2019 16.45
avatar

Cakep tulisannyaaa �� dibuat ngakak di awal, serius di tengah, dan lega di akhir artikel haha.

Btw, aku belum banyak sih pakai emoney dan mengenal fintech untuk kebutuhan sehari-hari. Masih sebatas belanja online aja, terutama belanja buku yang lagi diskon.

Karena buku lebih aman ketimbang belanja baju hahaha

Salam sayang juga dari Desy ��

17 Februari 2019 12.45
Terimakasih sudah berkunjung. Silakan Berkomentar agar saya dapat mengunjungi balik blog kamu. Mohon maaf jika mendapati komentar dimoderasi, mengingat maraknya spam yang nganu.