Bloger Nirbudaya: Mengunjungi Museum Lampung


“Ok! Ini, ini yang namanya Museum Lampung.” Tunjuk saya kepada seorang teman KP (Kerja Praktik) yang datang jauh-jauh dari ITK Kalimantan demi memperoleh pengalama mengolah bahan mineral di LIPI-BPTM (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia-Balai Penelitian Teknologi Mineral) Lampung.


Mustofah—nama motor saya—segera berbelok menuju gedung tersebut.

“Eh, tapi, tapi ini parkirnya di mana ya?” Saya celingukan sembari mengusap peluh yang menggenang dahi. Siang ini matahari lagi gak nyantai menyinari kota tercinta Bandarlampung. Pertanyaan saya lebih kepada diri sendiri sih, sebab teman saya ini juga baru kali pertama menginjakkan kaki di Lampung, mana pula dia tahu.

Kali terakhir saya mengunjungi Museum Lampung adalah….

Eng….

Anu….

Adalah….

*hening panjang*

…sepertinya dua belas tahun silam. Tepatnya saat studytour SD. Anak daerah kabupaten sih umumnya gitu, studytour mentok ke Museum Lampung, pantai Pasir Putih, TVRI dan kemudian FPI bahagia tanpa ada indikasi penistaan. Padahal nih, tiga tahun terakhir saya kuliah dan tinggal di area Jl. Soemantri Brojonegoro, jaraknya sekitar 700 meter dari Museum Lampung. Nyaris setiap hari lewat, tapi gak pernah terbersit keinginan untuk mampir. Sekadar menilik apa isi Museum Lampung setelah dua belas tahun berselang.

Baca Juga: Air Terjun Batu Putu, Murah dan Mudah Dijangkau


Baru ketika ada seorang teman yang pingin diajakin keliling-keliling kota Bandarlampung inilah saya kepikiran untuk main ke Museum Lampung lagi. Kurang nirbudaya apa coba saya? Sebagai warga Lampung saya memang amat nisata!

Untuk menebus kesalahan saya pada ungkapan Bung Karno “Jas Merah! Jangan sekali-kali melupakan sejarah.” maka saya akan menceritakan apa saja isi dari Museum Lampung ini. Mari simak :)

Museum Lampung notabenenya amat mudah dicapai, sebab memang terletak di jantung kota yaitu Jl. ZA. Pagar Alam. Berdekatan dengan perempatan lampu merah menuju kampus Universitas Lampung. Dari terminal Rajabasa cuma butuh lima menit naik angkot biru muda atau BRT (Bus Rapid Trans) dengan ongkos tiga ribu rupiah saja. Gampang bangetlah pokoknya nyari Museum Lampung. Kalo sampai ada warga Bandarlampung gak tahu tempat ini, mending kita lemparin ke kawah anak gunung Krakatau aja. Ok, Deal!

Masuk Museum Lampung seperti masuk museum pada umumnya yakni Rp 4.000,-/orang. Suara orgen tunggal menyambut saya saat kali pertama sampai. Sepertinya GSG di belakangnya sedang disewa untuk acara pernikahan. Sementara bangunan Nuwo Sesat (rumah panggung khas adat Lampung) tampak berdiri rapuh di sisi kanan taman museum. Iya rapuh semacam kurang kasih sayang, eh! Maksud saya kurang mendapat perhatian lebih dari pihak pengelola. Sayang sekali ya.

Tersesat di Nuwo Sesat

Kita tidak bisa masuk kedalamnya sebab diberi pagar besi yang tergembok. Sementara di undak-undakan terakhir yang saya duduki, banyak sekali sampah sisa makanan ringan bertebaran. Sangat disayangkan padahal diarea museum banyak tersebar kotak sampah. Apa susahnya sih menaruh sampah-sampah itu pada tempatnya? Kamu jangan sampai gitu ya, jadilah wisatawan yang bermartabat. Berharga diri, Ok!

Sementara di sisi lain ditanamkan beberapa benda serupa bedil sisa perang kemerdekaan, jangkar kapal, dan entah apa lagi. Saya gak tau namanya.

Halaman Museum Lampung
(source: maipura.wordpress.com)

Museum Lampung ini terdiri dari dua lantai. Lantai bawah diisi oleh diorama-diorama pasca letusan Gunung Krakatau 27 Agustus 1883, yang menyebabkan tsunami, semburan asap kelabu dan ribuan lava sebesar kerikil yang terlontar dari kawahnya. Lengkap dengan aneka batuan-batuan mineral yang terbawa oleh erupsi.

Ilustrasi Letusan gunung Krakatau

Material erupsi gunung Krakatau

Lava sisa erupsi Gunung Krakatau

Di sisi lain, disuguhkan aneka tembikar yang digunakan masyarakat Lampung di jaman batu. Keramik-keramik peninggalan sejarah, gerabah-gerabah, hingga gaya hidup manusia jaman sejarah dulu. Bahkan ada tengkorak manusia purbanya juga lho. Ada juga diorama aneka satwa endemik yang telah diawetkan.

Aneka peralatan rumah tangga masyarakat lampung jaman sejarah

Tengkorak manusia purba

Patung-patung mini peninggalan jaman batu dan jaman logam

Di sini juga terdapat prasasti Batu Bedil yang konon belum diterjemahkan. Saya sempat kaget sih, ini prasasti kok enggak dilapisi kaca. Tapi setelah diperhatikan lamat-lamat. Oh, ternyata cuma replika.

Sedikit cerita tentang Prasasti batu Bedil. Diberi nama sesuai dengan situs ditemukannya batu, yaitu desa Batu Bedil Hilir, Kecamatan Pulau Panggung, Kabupaten Tanngamus. Agak bangga juga sih, sebab itu daerah tempat tinggal saya. Situs aslinya sekitar 15 menit dari desa tempat tinggal saya. Maybe someday akan saya post artikel sediri tentang Situs Megalitikum Taman Batu Bedil. Kalau disini nanti kepanjangan.

Menilik replika prasasti batu bedil.

Pada keterangan disebutkan bahwa prasasti berisi 10 baris, diperkirakan dibuat pada abad ke-10 awal, dengan bahasa Sansekerta, mantra agama Budha atau Siwa dengan goresan bunga Padma. (Ini saya kutip dari keterangannya, maaf saya gak tau apa maksudnya. Sebab saat saya berkunjung tidak ada guide yang mendampingi).

Prasasti Asli (Situs megalitikum batu Bedil)

Oke, mari kita lanjutkan ke lantai dua. Kalau di lantai satu tentang keadaan masyarakat lampung jaman sejarah. Di lantai dua ditampilkan lebih mengerucut ke benda-benda dari jaman yang lebih modern. Pakaian pernikahan adat Lampung Saibatin dan Pepadun, isi rumah, hingga perabotan ditampilkan di sini. Sekali lagi manekin yang mengenakan pakaian adat tampak lusuh dan tidak terawat, sayang sekali ya.

Kiri pakaian adat suku Lampung Pepadun, kanan  Saibatin Pakaian adat suku Lampung Saibatin
(via http://www.surgakita.com/)

Oh ya suku Lampung ini, konon memang terbagi menjadi dua. Makanya tagline yang tersemat untuk daerah Lampung yaitu; Sai Bumu Khua Jukhai, maksudnya daerah yang terdiri dari dua golongan. Perbedaan dari kekduanya, Lampung Saibatin merupakan suku lampung yang tinggal dipesisir, dengan mahkotanya (siger) memiliki tujuh lekuk. Masyarakat ini umumnya berbahasa lampung dengan dialek A (contoh: kata ‘apa’ menjadi ‘api’). Sementara adat Lampung Pepadun pada mahkotanya terdapat Sembilan lekuk. Dengan baha Lampung berdialek O (contoh: kata ‘apa’ menjadi ‘nyo’).

Kain tapis (songket khas adat lampung) peninggalan sejarah, 
tampak eksotis karena lusuh terkulum usia

Jika dilihat lebih mendalam, gaya hidup suku Lampung memang tidak jauh dengan masyarakat pemeluk agama Islam pada umumnya. Seperti acara cukur bayi yang baru lahir dan sebagainya. Bahkan di sini ada juga Al Qur’an yang ditulis pada pelepah pohon lho. Saya menarik kesimpulan dari silsilah keluarga Raden Imba. Yaitu ayah dari Raden Intan II (pahlawan lampung yang namanya diabadikan sebagai nama bandara udara di Lampung) disitu disebutkan bahwa Raden Imba merupakan keturunan raja dari kerajaan Samudra Passai. Ingat kan pelajaran sejarah SMP dulu, kerajaan Samudra Passai merupakan kerajaan islam pertama di Indonesi.

Al Qur’an di atas pelepah pohon

Tradisi cukuran bayi masyarakat Lampung

Oh iya, Bahasa Lampung juga memiliki aksara lho. Serupa hanacaraka milik suku Jawa.

 
Ini aksara Lampung

Kertas kuno dengan tulisan beraksara Lampung

Lanjut, ya. Di bagian tengah ruangan ditampilkan satu set gamelan Lampung yang biasanya digunakan untuk mengiringi tarian daerah seperti Tari sigeh pengunten (tari sembah) yang umumnya digunakan untuk menyambut tamu. Tari bedana, Tari cangget dan tari-tarian lain.

Satu set gamelan Lampung

Di akhir kunjungan, teman-teman juga bisa membeli souvenir khas lampung lho. Di bagian penerimaan tamu ada booth sendiri yang menjual souvenir. Sayangnya saat saya berkunjung sedang tidak buka, jadi si Iqbal yang jauh dari Kalimantan sana enggak sempet beli oleh-oleh.

Iqbal menilik prasasti yang tampak nganu

Senjata peninggalan perang 

Oke sekian dari saya, semua artikel saya tulis berdasarkan keterangan yang saya baca-baca saat berkunjung ke museum dan sekelumit ingatan saat belajar mata pelajaran muatan local bahasa Lampung di sekolah dulu. Jika ada kekeliruan pada informasi yang saya berikan boleh lho diluruskan. Sebagai manusia biasa saya juga tidak luput dari dosa *ciehh.

Jika teman-teman ingin berkunjung boleh juga kontak-kontak saya. Biar kita bisa bareng-bareng belajar budaya. Setidaknya walau saya bukan berasal dari Suku Lampung—apalah daku hanya seorang PUJASERA (Putri Jawa Kelahiran Sumatera)—tapi sekali-kali mengenal dan mengapresiasi budaya sendiri, gak papa kan. Jangan sampai budaya kita diakui Negara tetangga, baru uring-uringan lantas menyeru ‘Ganyang Malaysia!’

Oh ya, satu lagi Museum Lampung kalau hari senin tutup ya. Seperti museum-museum pada umumnya. Entah juga sih mengapa, tapi kalau akhir pekan tetap buka kok, biasanya malah lebih ramai.

Okelah semoga bermanfaat. Kalau ada yang ditanyakan atau penasaran silakan tinggalkan pertanyaan di kolom komentar. Pasti akan saya jawab. Semampunya tapi ya, hehe.



Bandarlampung, Agustus 2016




49 komentar:

  1. Anjirr Prasasti Yang Tampak Nganu Maksudnya Apa Ka WKkwkkw

    Wahh Nanti Kapan" Boleh lah Berkunjung Kesitu.. Mau Liat Tengkorak Jaman Purba hhehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah entahlah, aku juga ndak tau. Jagan terlalu difikirkan -_-"

      Hapus
    2. Oke Siap Ka :)

      BTW Alamat lengkapnya :) Nanti Klo Ada Waktu Aku Kesitu lah

      Hapus
    3. Alamat siapa nih? Gue apa museumnya? hehehe
      Di Gedung Meneng, JL Za Pagar Alam (lupa nomornya). Google map aja kali ya.

      kalo butuh guide, kontak sosmed gue aja, ada di menu 'kenalan'
      see yaaaa :)

      Hapus
  2. Astagaaaa meskipun orang Lampung tapi udah lama gak ke museum Lampung hihihi
    Lama jg ya Lus km ga ke sana ;)

    Tapi isinya bagus2 tu kaya akan sejarah, apalagi ada situs megalitikumnya
    Ada Al-Quran juga. Aku seneng kalau ke museum gt, biasanya ada baju adatnya hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak anu, gak sempet, gak tau juga mau apa *nyiapin seribu alasan lain* hehe
      iya mbak ternyata setelah ditelusuri ya nt bad. ayolah sini main ke lampung

      Hapus
  3. Lampung! Aku ingin sekali tiba di situ. Apalagi ke musium lampung, aku pengen setelah melihat naskah kunonya. Eh, dik... keren banget cara pengulasannya, foto pun lengkap. Berbakat nih jika jadi blogger traveller. Jempol untukmu..
    semngat ya!.. aku tunggu ulasan lainnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aih aih kak makruf ini suka bikin orang kegeeran hehe. siapa pula enggak kepinin jadi traveler bloger *ngiler.

      ayo ayo sini ke lampung, nanti tak ajakin ke museum lampung hehe. ditunggu!

      Hapus
  4. Wah, jadi inget kalau waktu di kampung halaman dulu juga museum sering lewat tapi gak pernah terbersit buat masuk ke dalam. Cuman pernah ke situ pas Study Tour SD. Huft, pemuda bangsa macam apa aku ini xD.

    Baru tau kalau Lampung ternyata punya Aksara sendiri ya, kirain cuma Jawa yang punya. Tapi sekarang Aksara Lampung masih dipakai gak sih disana? Kalau Jawa kan masih ada tuh di beberapa tempat dipakai, yang aku tau sih jadi papan nama jalan yang sekitaran Malioboro gitu ._.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sama tuh, sama aku juga ke museum pas studytour SD doang. ini aja karena ada teman dateng dari jauh jadilah berkunjung ke museum lagi. setelah belasan tahun lamanya.

      iya dong punya. kalo pernah ke lampung banyak kok gapura-gapura atau instansi pemerintah yang menyematkan aksara. perhatikan saja

      Hapus
  5. Jadi ingat pengen ngajak anakku ke museum. Tapi kapan ya, ayahnya koding melulu :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayodong ayah yang baik harus menepati janji ngajakin anak ke museum. luangkan sedikit waktumu wahai ayah :)

      Hapus
  6. ku sering ke museum lampung dan belum pernah masuk kedalamnya.

    gue baru tau ternyata banyak sekali budaya yang terdapat di dalam museum itu. ku cuman sering melihat meriam dan jangkar di luar museum

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayolah sekali-kali masuk dek. belajar sejarah dari sana heheu

      Hapus
    2. ingin sekali masuk tetapi nggk ada kawan yang mau nemenin, kakak mau nemenin aku nggk????hehe

      Hapus
    3. Apasih Attar yang enggak buat kamu :D

      Hapus
    4. *sedikit tersenyum* *pipi memerah*

      Hapus
  7. tring... dikota gue juga ada museum tapi kagak tau kenapa museum itu kagak pernah buka (mungkin karna gue kagak tau)..
    padahal bisa dibilang gue penasaran apa sih yang ada dimuseum itu, apa mungkin tengkorak dan peti mati atau apalah itu

    setelah membaca ini, gue sedikit tersadarkan kalau didalam museum tidak hanya sesuatu yang pernah hidup lalu mati, tetapi juga benda benda bersejarah lainnya :D

    wah entar gue pantengin tu aja museum, kali aja entar buka, jadi gue tau apa saja yang ada di museum kota gue

    maksudnya nganu dalam kata kata ini "Iqbal menilik prasasti yang tampak nganu" apaan ya ?

    jelaskan lah biar imajinasi gue gak keluar batas haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah sama dong gue juga lagi ngesave satu museum lagi di kota gue yang kalo dilirik-lirik enggak pernah buka. seneng juga sih mengunjungi museum, secara biaya masuknya murah gitu lho hehe.

      oh itu, anu, itu cuma... gak papa kok. gue typo aja. Eh azhie lihat deh ada ufo lewat *kemudian kabur*

      Hapus
  8. A pantas aja baajju adatnya beda, ternyata lampung terbagi menjadi 2. Aku juga suka wisata musium, selain mengenang peradaban trdahulu, rasanya excited aja karena selintas terpikir kok orang jaman dahulu uda mengenal jenis2 kebudayaan gitu ya, berarti sedari dulupun sebenernya manusia itu cerdas, dan yang menemukan pertama kali berarti pioner

    Oya
    Sekilas kaya bahasa hanacaraka, ni jenis2 pelafalan sukukata dari bahasa lampung

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener banget itu kak nita, aku juga sempat berpikiran serupa. buktinya jaman dulu udah mampu bikin bangunan sekeren candi borobudur yang tak lekang oleh waktu. malah aku berspekulasi manusia semakin ke sini semakin pemalas dan gak kreatif lagi, sebab dimanjakan teknologi

      Hapus
  9. saya sudah 4 tahun tinggal di Bandar Lampung tapi belum pernah masuk ke dalam museumnya, waktu itu sekali di aulanya ketika acara perpisahan sekolah :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yasalam robby, sana lompat ke selat sunda aja wkwkw
      sekali-kalilah tengokin pusat saksi sejarah kota bandarlampung tercinta asikk!

      Hapus
  10. Kalau masalah musium saya suka nih :D soalnya membahas tentang sejarah ( Bukan sejarah bersama mantan ), apa lagi musiumnya tentang budaya di Indonesia, kesannya itu keren.

    Ternyata di lampung juga ada aksaranya to, saya kira cuman suku jawa saja yang punya aksara :D. Gamelannya pun hampir mirip gamelan jawa, bedanya lebih lengkap gamelan jawa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyak bener sekali Ardisca, Lampung juga punya aksara. dan untuk gamelan memang lebih lengkap gamelan jawa. tapi gamelan lampung relatif lebih gampang dimainin.

      saya juga suka mengunjungi museum museum begini sebenernya, cuma kadang agak susah aja nemu kawan yang mau diajakin main-main ke museum sebab kurang hitz

      Hapus
  11. Itu yang membuang sampah di area sekitar museum,dimana sih akal sehat nya ? Padahal tempat seperti ini harus dijaga kebersihannya.

    Dulu gue pernah tinggal diLampung,tapi belum pernah kesini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah sayang sekali Jun, sini lah ke Lampung lagi. Emang orang sehat gak memulu secara akal hehe

      Hapus
  12. pengen banget jalan-jalan ke museum lampung..
    tapi kayaknya hanya di angan-anagan aja..
    wah, sayang banget itu manekinnya kalau ngak terawat..

    BalasHapus
    Balasan
    1. kenapa gitu kak, sini atuh ke Lampung. nanti saya ajakin ajalan wkwkw

      Hapus
  13. museumnya keren juga nih. jd pengen kesana
    buat foto sama prasasti yang tampak nganu, biar hits haha

    BalasHapus
  14. nganu itu maksudnya apa?
    kok aku mikirinya ke anu wkwkwkw

    itu beneran temennya orang kaltim datang ke lampung cuma buat penelitian doang?

    apa pengen ketemu kamu kaliiiiiiiii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nganu itu ya anu kak Risah. silakan pikir sendiri hehe.
      iya kak sumpah dia ke lampung mau penelitian, wong kenalnya aja baru disini LOL

      Hapus
  15. Lampung ya jauh juga lumayan.. bagus tu museumnya, thank ya infonya.

    BalasHapus
  16. wah padahal beberapa bulan lalu saya ke Lampung, kondangan. hehe

    baru tau klo di lampung ada museum juga, disangka baso pak sony aja yang enak itu. nanti klo ke Lampung mampir ah~

    Wah update terus tentang wisata di Lampung, biar orang2 makin tau di Lampung ada apa aja. :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap kak Andi. Wah sayang sekali ya, udah ke lampung tapi belum sempet explore Lampung. Emang kalo tempat tempat serupa museum gini agak kurang dkminati sih, kecuali kalangan pelajar. Itupun kepaksa karena kegiatan sekolah. Semoga kapan kapan bisa nyempetin berkunjung ya

      Hapus
  17. Gue selama tinggal di bandar lampung dulu,belum pernah menjelajah museum ini.Gue suka tuh dengan al quran yang ditulis diatas pelepah pohon,unik dan pasti banyak sejarah nya.

    Hitung hitung kalau ke mueum gini ya berwisata sambil belajar begitu.

    Kalo aksara lampung,itu udah makanan gue waktu SD. Dan nilai gue dulu tuh ambruk banget deh kalo udah disuruh nulis pakai aksara lampung haha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha iya Juna bener banget, bahasa Lampung emang pelajaran muatan lokal. Dulu gue juga sebel sama pelajaran ini. Sekarang baru ngerti kenapa kita harus belajar muatan lokal.

      Lo pernah tinggal di Lampung ya, ya semkga kalan kapan ada kesempatan main lagi ke Lampung, terus mengunjungi museum ya

      Hapus
  18. Lampung, banyak temen kuliah dari Lampung.
    Aku paling suka pergi2 ke tempat2 bersejarah gini, selain bermain sembari belajar juga, jadi tahu infomasi :)

    Keren yah bisa langsung beli asesorisnya langsung, wah sekali kesitu langsung dapat oleh2 khas Lampung ya :)
    Bagi orang Lampung mah mungkin udh biasa ya..hehe

    Tapi perjalanannya jauh banget ya mba, temanku aja yg di Jogja naik bis sampe 24 jam.an ...

    BalasHapus
  19. Makasih infonya tentang museum di Lampung, jadi nambah wawasan tentang isi dari museum tersebut. Bisa nih kalau kamu berkunjung ke museum Lampung lagi, saya berminat untuk ke sana bareng-bareng. Hehe.

    BalasHapus
  20. Wahhhh... gambarnya lengkap ya!
    Kalo aku sih, belum pernah sama sekali ke Museum manapun..

    Kayaknya seru berkunjung ke Museum.. Mmmm... pengen nih kapan-kapan kesana.. Hahahaa... :D

    BalasHapus
  21. Wkwk terinspirasi dari mana teh sampe nama motornya mustofa.
    kalo disini Mustofa itu tetangga Kost aku wq.

    Di mueseum ini 100 persen bahasa Lampung kan teh ?
    soalnya aku pernah trauma pas kelampung justru masyarakatnya lebih fasih pake bahasa Jawa.
    kan aneh :(

    Btw makasih banget yah infonya teteh Pujasera, siapa tahu aku bisa kesana :)
    O iya teh, judul Blognya ada yang typo :)

    BalasHapus
  22. Wah wah, bagi gue sendiri saat ngebaca posting ini, serasa dipandu oleh tour guide. Keren dan sangat detail.

    Kalau ntar kesana, gue bakal bilang-bilang. hehe

    BalasHapus
  23. Postinganmu lengkap banget loh. Bener kata abdul, kita serasa diajak museumnya, ditambah foto dan keterangan-keterangannya menambah nilai plus.

    Eh kenapa nggak sekalian wawancara sama pengelola museumnya? Mungkin bisa menambah nilai plus lagi. Terutama terkait sampahnya? Dih, kita emmang belum bisa move on dari masalah mindset tentang kebersihan.

    BalasHapus
  24. Museum, tempat seru yang bisa dijadiin tempat rekreasi sekalian belajar. Aku selalu pengen datengin museum lihat-lihat keadaannya tapi selalu ga ada temen, mereka lebih milih main ke mall. Kalau deket sama kak lustika seru nih, maen ke museumnya punya temen.

    Lampung punya aksara? Tanah sunda juga ga mau kalah, kita punya aksara juga dong.

    Salut sama prasastinyaa, bagus. Rada gimana gitu pas baca patung yg make baju khas lampung rada usang, padahal kan itu pelajaran tapi malah gitu :((

    Jadi pengen ke museum ih...

    BalasHapus
  25. Alhamdulillah sebagai orang kelahiran di Lampung gue udah beberapa kali mengunjungi museum Lampung. Sama kayak lo yang pernah tinggal di soemantri brojonegoro. Gue pun pernah. Haha

    Kira2 terakhir kali gue kesan itu 2 atau 3 tahun lalu.

    Banyak banget menurut gue orang Lampung atau bahkan orang yang tinggal di Lampung tapi enggan untuk mengunjungi museum ini. Hmm... ada apa ya????

    BalasHapus
  26. makasih untuk postingan soal museumnya :D jadi kalau ke lampung (meskipun gak tau kapan), bisa lah mampir2 kesana. soalnya aku suka banget ke museum :D
    rasanya kayak masuk ke dimensi waktu berbeda :D

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung. Silakan Berkomentar agar saya dapat mengunjungi balik blog kamu. Mohon maaf jika mendapati komentar dimoderasi, mengingat maraknya spam yang nganu.